RSS

Urgensi struktur konsep mahasiswa calon guru fisika tentang pemahaman fisika berdasarkan pemahaman agama islam dan analisis sejarah masa lampau


Urgensi  struktur konsep mahasiswa calon guru fisika tentang pemahaman fisika  berdasarkan pemahaman agama islam dan analisis sejarah masa lampau

JULIA
Email: julia_aisyah92@yahoo.com

Program S-1 Pendidikan Fisika
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan
Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
KampusIII :Jln. Prof. Dr. Soepomo,SH. Janturan Yogyakarta 55164 Telp. (0274) 381523, 379418


Abstrak
                        Allah SWT telah terang memerintahkan  kepada umat manusia untuk melihat dan memikirkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi (QS.10:101), dengan itu Manusia diperintahkan untuk senantiasa menggali ilmu pengetahuan agar menjadi umat islam yang tangguh sebagai wakil Allah di bumi, agar kita tidak membantah Allah dengan taklid ( QS. 2:3).  Dengan peradaban kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang sangat pesat yang dijadikan tolak ukur kemajuan peradaban suatu bangsa . sehingga kita tidak boleh tertinggal, terutama calon guru yang akan mendidik siswa tentang fisika, karena penguasaan fisika menjadi salah satu “ the keys” dalam permasalahan ini. Allahpun telah memberikan petunjuk tentang  fisika dalam beberapa ayat dalam AL-Qur’an. Dalam beberpa abad terakhir umat islam terlihat lemah dalam penguasaan ilmu terutama fisika dan jauh tertinggal d banding orang barat, belum ada keseimbangan antara ilmu agama dan iptek serta penguasaan ilmu sejarah yang minim pada guru.
Kata Kunci : fisika, sejarah, islam, teknologi, guru

Abstract
Allah SWT has commanded the light to mankind to see and think about what is in the heavens and whatsoever is on earth (QS.10: 101), with the Man ordered to constantly explore science in order to the representative of God on earth , so we do not argue with the imitation of God (QS. 2:3). With the technological advancement of civilization and science are so rapid that benchmark the progress of civilization of a nation. so we should not be left behind, especially prospective teachers who will educate students about the physics, because mastery of physics was one of "the keys" in this issue. God has given clues about the physics in a few verses in the Qur'aan. In the last century beberpa Muslims look weak in the mastery of science, especially physics and far behind d versus the west, yet there is a balance between religion and science and technology knowledge and mastery of the science of history is minimal with teacher.
Keyword : physics, history, islam, technology, teacher.



PENDAHULUAN
           
Setiap guru adalah yang ahli pada bidang ilmu yang dia ajar, terlebih fisika tidak sembarang orang yang mampu mengajajarkan fisika kecuali yang telah mengambil jurusan fisika, sebelum imperium romawi runtuh ilmuan-ilmuan besar sudah ada seperti plato, aristoteles, socrates, dan banyak karya-karya filsuf lainny telah beredar walau hanya sedikit. pada abad ke-8 peradaban islam jaya, peradaban keilmuan sudah canggih dbanding eropa, dan peneliti-peneliti beredar dimana2, gedung-gedung megah berdiri kokoh karena ilmu pengetahuan yang semakin maju, imperium besar ada di tangan umat muslim saat itu, salah satu ilmu yang mempengaruhi oerkembangan keilmuan saat itu adalah fisika, umat muslim begitu semangat meneliti, tapi d zaman sekarang sains fisika telah mengalami kemerosotan, telah jarang kaum yang ingin meneliti, dimana siswa pastilah menganggap fisika sebagai momok yang menyeramkan karena langsung d cekoki dengan rumus-rumus yang “asing” bagi mereka, mereka banyak yang tidak tahu akan kemana landasan yang akan di tuju dari fisika, sedikit sekali guru yang mampu memahamkan secara mengakar kepada murid tentang pentingnya fisika dalam kehidupan terutama untuk semakin mendekatkan diri pada Allah sang maha pencipta, dan demi kepentingan teknogi. ilmu pengetahuan ( fisika) sudah mengalami mengalami degradasi yang sangat signifikan, sains di anggap tidak ada kaitannya dengan agama dan tuhan, di kurikulum dan buku-buku sekolah sedikit sekali yang menghubungkan antara hasil dari kajian manusia ini dengan kuasa illahi, seolah-olah sains adalah bebas nilai, dan diktum bebas nilai ini merupakan cara ampuh untuk membungkus sains sehingga ia nampak sebagai sebuah konsep sakral yang tidak bisa dipertanyakan lagi kebenarannya, yang memunculkan mitos-mitos mengenai sains terutama fisika sebagai modal imu yang paling andal , sepenuhnya rasional dan objektif, sehingga peran guru sangatlah penting dalam pengakaran ilmu yang akan di ajarkan pada siswanya, agar mereka tetap mencintai fisika dan tahu harus di bawa kemana dan semkain besar cintanya pada penguasa langit dan bumi, kemudian timbullah rasa ingin tahu yang besar, sehingga jiwa-jiwa peneliti semakin kian mewarnai negara kita. Tidak seperti yang kita lihat fenomena zaman sekarang jiwa peneliti semakin hari kian menyusut, yang ada hanya mereka “percaya” begitu saja akan konsep fisika yang ada dan puas dengan hasil penelitian yang ada sekarang, jarang ada individu atau siswa yang kritis menanggapi masalah ini dan ingin ikut berkembang mengadakan penemuan-penemuan baru, salah satu faktor adalah dikarenakan guru yang kurang profesional dalam bidangnya, belum mampu mananamkan jiwa peneliti dan kritis pada siswa, di karenakan guru itu sendiri yang kurang mengkaji akan ilmu fisika dan aplikasi serta kaitanya denganalam dan tuhan, guru sangat penting untuk tahu akan sejarah dari bidang ilmu yang sedang dikaji, dan korelasi yang di timbulkan dari pendalaman dan penguasaan ilmu itu sendiri. Sejarah  tidak hanya orang yang berjurusan sejarah saja yang berhak belajar dan mengetahui berbagai sejarah, karena ilmu itu juga dimulai dengan adanya sejarah lalu kita pelajari, begitupula fisika dengan sejarah yang sangat panjang, fisika di pelajari dari temuan-temuan ilmuan terdahulu yang hingga sekarang kita serap dan pelajari sehingga di temukan teknologi secanggih abad ke -21 ini, semua itu karena kita membaca sumber-sumber terdahulu yang sudah menjadi sejarah melalui goresan tinta.faktor lainnya juga tidak hanya terletak pada guru, tapi juga pendidikan yang di sediakan oleh pemerintah sedikit sekali sekolah tingkat menengah yang menyediakan laborataorium lengkap untuk siswa berekspresi untuk bersaing dengan ilmuan-ilmuan terdahulu, jangankan tingkat sekolah, tingkat universitas tidak sedikit yang tidak memiliki laboratorium lengkap untuk mahasiswa mengembangkan diri. Ketika peradaban isalam sedang meraksasa (700-1300M) umat muslim sudah sampai pada puncak kejayaannya dengan penemuan-penemuan mutakhir, dan kota 1001 malam yang ada di baghdad dan konstatinopel. masa yang bisa disebut the golden Age of Sciens karena  pada zaman ini rumah sakit-rumah sakit telah berdiri,bangunan-bangunan megah berdri kokoh,    kesadaran umat muslim terdahulu akan sains begitu besar, yang membawa mereka pada ketakjuban yang luar biasa pada sang Khaliq pencipta alam semesta.  Dan penting bagi kaum intelektual untuk mengetahui ilmuan-ilmuan muslim besar terdahulu ada Al-kindi yang menguasai ilmu matematika, kedokteran, fisika, optik, astronomi,filsafat dan metalurgi. Al-khawarizmi menguasai matematika, astronomi, dan geografi. Ibn sina menguasai ilmu kedokteran, matematka, astronomi, filsafat dan salah satu tokoh besar dalam lmu matematika modern. Ibn Rusyd menguasai ilmu kedokteran, hukum, fislasat, astronomi dan teologi. Al-Razi ahli kedokteran. Ibn Haitam yang dikenal sebagai bapak ilmu optik. Ibn Al-Nafis yang menemukan sistem sirkulas darah, dan hebatnya orang-orang muslimlah yang pertama kali membangun rumah sakit modern. Al- Batani ilmuan astronomi. Ibn- Battuta yang menjelajah lebih dari marcopolo. namun sekarang sains telah mengalami kemunduran nilai, sains dianggap tidak lagi bersandar pada apapun, tidak brsandar pada agama, sihingga sains dinyatakan bersifat universal dan tidak memiliki nilai, terutama saat ini kebanyakan yang orang tahu bahwa sains itu lahir di  barat, sehingga guru-guru bahkan dosen sekalipun sangat membanggakan barat, perjuangan ilmuan muslim masa lalu terasa terabaikan dan tenggelam, tidak ada pengaruh sama sekali, padahal umat muslimah yang membuka pintu peradaban bagi eropa(barat). Tugas guru adalah meluruskan pemahaman dan semangat meneliti kembali pada masa kejayaan islam terdahulu bahwa merakalah yang pintar, cerdas yang menemukan dan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan, sekarang dogma-dogma negatif dtanamkan dengan peserta didik bahwa “baratlah yang pintar” hanya “barat yang bisa memulai” seakan barat di tuhankan dalam segala ilmu, padahal itu salah, mereka tidak akan berkembang seperti sekarang tanpa menerjemahkan

PEMBAHASAN
            Miskin penghayatan sejarah, adalah kemiskinan yang menghinakan bangsa. mengapa mempelajari sejarah itu penting, sekarang kita tinjau urgensi itu dari berbagai sudut pandang, pertama kaitannya dengan sumber-sumber pokok dari agama islam yang kita yakini, sejarah adalah bagian yang menempati porsi terbesar dari pengajaran yang di berikan Allah SWT melalui wahyu yang di turun kepada Muhammad SAW. Dari sa’id bin jubair dari ibnu abbas r.a beliau mengatakan Al-Qur’anul karim 6000 ayatnya berisi kisah, 600 ayatnya berisi tanda-tanda kebesaran Allah, 60 ayatny berisi aturan praktek mu’amalah dan 6 ayatnya berisi khudud atau aturan-aturan hukuman dari Allah SWT. Meskipun kita tidak bisa menyebut Al-Qur’an sebagai kitab sejarah. Akan tetapi ternyata sejarah dipilih oleh Allah SWT menjadi satu cara metode untuk menuntun kita dalam  menghayati dan memahami agama ini dengan lebih baik, artinya jiwa manusia memang lebih mudah untuk memahami perkara-perkara dengan bercermin apa yang pernah terjadi di muka bumi, dan ap yang pernah terjadi di muka bumi di jelaskan oleh Allah kepada kita dengan bahasa yang menarik, sastra yang menyentuh dan kalimat-kalimat yang menggugah. Maka sejarah yang menjadi bagian AL-Qur’anul karim itu yang kata ibnu abbas r.a menempati porsi terbesar dari kandungannya yang menjadikan kita lebih mudah dalam menghayati agama ini. Bagaimana kemudian kita mendapatkan sumber-sumber pokok agama ini dan AL-Qur’an ada porsi yang amat besar untuk sejarah. disini kita membahas pada bagian keilmuan dan pengetahuan tentang fisika yang terkandung didalam Al-Qur’an, serta sejarah awal ilmu  dmasa lampau sebagai tolak ukur dan semangat menggali ilmu. Penting untuk seorang calon guru tahu mengenai ini sains ( fisika) dalam Al-Qur’an karena dikurikulum universitas tidak ada yang mengkaji hal ini, karena semua sistem pendidikan berkiblat ke barat, semua yang kita pakai adalah produk barat, jadi tidak heran ketika siswa dan mahasiswa kini mereka jarang yang memiliki adab yang baik,dan salah satu kebangkitan poeradaban itu adalah jika manusia didalamnya memiliki adab, jika manusia itu tidak paham akan adab bagaimana akan membangun peradaban suatu bangsa. Karena peradaban islam beberapa abad lampau runtuh karena manusianya sudah tidak lagi memiliki adab. Kedua, ahli-ahli sejarah di timur maupun barat, sejak Confucius hingga Toynbee, dari ibn Khaldun sampai Colingwood, yakin bahwa seseorang tidaka akan dapat memahami masa kini dan aka gagal melihat masa depan, tanpa mampu merenungi masa lalu( sejarah). pemikiran- pemikiran yang berpengaruh pada masa kini adalah bagian mata rantai panjang pemikiran sebelumnya.

Kebaikan dimulai dari guru.
Ketika guru sudah memiliki rancangan yang pas, tujuan yang jelas bukan hanya mengenai SK/KD atau penilaian formal dalam evaluasi pendidikan yang sering kita sebut evaluasi pendidikan, yang didefinsikan oleh Ralph Tyler(1950) evaluasi merupakan sebuah proses pengumpuln data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagaimana tujuan pendidikan sudah tercapai. Jika belum, bagaimana yang belum dan apa sebabnya, itu yang guru biasa lakukan, memang evaluasi disana adalah lebih pada “materi” ajar yang tertulis pada SK/KD, tapi coba lihat apa yang kita lihat pada siswa dan mahasiswa sekarang, nilai tingi di sekolah tapi memiliki kebrutalan Moralnya sudah sangat banyak menurut saya dan ini dibuktikan oleh survey -survey lembaga Korupsi seperti ICW,ataupun survey 2 yang dilakukan mengenai jumlah Angka Kekerasan,angka pengangguran,dan tak pelak lagi yang paling mempengaruhi untuk yang namanya "PENDIDIKAN" memang tanggung jawab moral bagi Semua,namun ini secara Legalitasnya menjadi tanggung jawab Seorang pendidik ,Guru jawabnya. Sehingga pemerintah merubah tujuan kurikulum “pendidikan berkarakter untuk keberadaban bangsa” dengan harapan “guru mentrsanfer nilai-nilai positif pada siswanya”, tapi ternyata tidak sedikit juga guru yang tidak mengerti tentang pendidikan berkarakter ini, terbukti dari kecurangan-kecurang yang dilakuan oleh guru dalam memberikan penilaian dan mengajarkan mencontek UAN,berarti peran guru begitu besar dalam merubah bangsa ini, walaupun tidak lepas hanya guru yang bertanggung jawab tapi juga oknum-oknum yang berada di atas ynag sering menjadi sorotan ntah itu pejabat tinggi, serta tokoh agama dengan akhlaknya yang tidak terpuji. Tapi disini kita kan membahas tentang guru. Ketika Jepang terpuruk karena kekalahan perang dunia ke-2, yang ditanyakan kaisar bukanlah berapa prajurit yang masih hidup, tetapi berapa guru yang masih hidup. Inilah yang menjadi kunci sukses jepang sampai saat ini, menjadi negara kecil yang maju. Guru berperan mencerdaskan bangsa yang akan mengubah nasib bangsa ini.
`           jika guru tidak memeliki nilai dan tidak paham akan esensi hidup dan aksiologi dari ilmu itu sendiri bagaimana siswa akan baik dan membayangkan akan seperti ilmuan dan cendikiawan terdahulu, terutama aksiologi sains(fisika) merupakan bagian terbesar dalam kontribusi teknologi dan peradaban suatu bangsa hingga saat ini, jadi guru sains(fisika) harus mengerti nilai-nilai fisika yang ada didalam Al-Qur’an dan sejarah masa lalu untuk tahu, apa yang Allah inginkan dari kita mengkaji ilmu.

Sains (Fisika) dan Al-Qur’an
            Islam sebagai suatu sistem nilai, mengalami perkembangan yang pesat pula, sehingga didalam perkembangannya juga membutuhkan berbagai disiplin ilmu yang dapat di genarisasikan dari Al-Qur’an da sunnah sebagai syariat utama islam. Salah satu ilmu yang dikembangkan adalah sunnahtullah atau yang lebih di kenal dengan sebutan hukum alam. Fisika sebagai bagian dari sains dikembangkan berdasarkan pemikiran bahwa Al-Qur’an adalah sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan. Berlandaskan hal ini, maka oencarian kebenaran dalam bidang fisika  tidak haya terbatas melalui kebenaran ilmiah saja melainkan digali dari sumber kebenaran yang lebih kengkap dan komprehensif. Dalam hal ini antara ilmu dan agama dlilihat dan difungsikan secara padu, selain sama-sama ntuk menggali kebenaran, masing-masing juga bersifat komplementer.
1.    Gaya gravitasi
Gravitasi merupakan salah satu contoh bentuk gaya. Gaya adalah sebuah konsep fisika yang sangat abstrak. Salah satu arti gaya adalah sebuah interaksi antara sebuah benda dengan lingkungannya. Gaya gravitasi adalah sebuah interaksi antara sebuah benda bermassa m dengan benda lain disekitarnya praktisnya, gaya terjadi di setiap benda yang memiliki masaa dengan benda lain ynga memiliki massa, cth: meteroit yang jatuh ke bumi, dan benda lain yang jatuh kebumi. Allah berfirman dalam surat al- Insyiqaq 3-4;
#sŒÎ)ur ÞÚö‘F{$# ôN£‰ãB ÇÌÈ   ôMs)ø9r&ur $tB $pkŽÏù ôM¯=sƒrBur ÇÍÈ  
“ Dan apabila bumi diratakan. Dan dilemparkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong.”

Dalam ayat ini Allah menerangkan keoada kita bahwa apabila bumi tidak memiliki gaya gravitasi yang menarik benda-benda dan materi-materi, maka bagian atasnya akn turun kebawah dan sebaliknya. Satu hal ini saja daoat memberikan ide kepada kita tentang penjelasan konsep gaya gravitasi bagi kelangsungan hidup makhluk di bumi. Beberapa ilmuan berpendapat bahwa kekuatan gravitasi bumi terhadadap suatu benda mengalahkan kekuatan tarik-menarik yang dimiliki pleh sebagian benda terhadap sebagian yang lainnya karena kekuatan gravitasi bumi dihasilkan oleh dua benda yang saling tarik-menarik, maka gaya tariknya terhadap suatu benda terkadang bisa kita rasakan dan amati. Sampai saat in manusia belum tahu hakikat dari gravitasi, dll. Kalau tidak ada gaya gravitasi bumi, akan lenyaplah atmosfer yang menyelimuti bumi, lenyap pula semua oksigen yang sangat penting bagi kelangsungan hidup, dan air juga akan lenyap, sementara air adlah sumber kehidupan, dari sini Al-Qur’an telah menberikan gambaran hukum gravitasi, tetapi rahasia gaya tarik-menarik tersevut tidak dapat di tambah dan di kurangi.
2.    Teganga permukaan pada lautan
Allah  SWT berfirman dalam surat ar-rahman: 19-20 sebagai berikut:
ylttB Ç`÷ƒtóst7ø9$# Èb$u‹É)tGù=tƒ ÇÊÒÈ   $yJåks]÷t/ Óˆy—öt/ žw Èb$u‹Éóö7tƒ ÇËÉÈ  
‘ Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing”

            Sifat lautan yang saling bertemu, akan tetapi tidak bercampur satu sama lain telah ditemukan oleh para ahli fisika kelautan baru-baru ini. Dikarenakan gaya fisika yang dnamakan tegangan permukaa, air dan laut-laut tidak menyatu. Akibat ada perbedaan jenis, tegangan oermukaan mencegah lauta bercampur satu sama lain, seolah terdapat dinding selaput tipis yang memisahkan mereka.  Gejala ini tidak terlepas dari adanya gaya-gaya antar partikel atau antara molekul suatu zat yang pada umuumnya berasal dari kelistrikan yang secara umum gaya ini berbanding terbalik dengna kuadrat jaraknya.jika jarak antar molekul-molekul itu besar, misalnya pada gas, maka gaya itu sangat kecil dan hanya berupa suatu tarikan.gaya tarik ini bertambah besar jika gas dimapatkan dan jarak antara molekulnya diperkecil. Karena untuk memapatkan zat cair diperlukan tekanan yang besar yaitu untuk memaksa agar molekul-molekul bertambah dekat, maka pada jarak yang sedikit lebih kecil dari pada dimensi molekul, gaya itu merupakan gaya tolak yang ralatif besar. Gaya tarik- menarik antar partikel ata molekul sejenis akibat peristiwa kelistrikan(listrik stasis) di kenal dengan gaya kohesi. Dari gaya seperti inilah seolah-olah terdapat selaput tipis yang memisahkan antara zat cair satu dengan yang lain, serta mamou menahan benda benda kecil di permukaannya. Permukaan zat cair menjadi tegang, maka sifat ini disebut dengan tegangan permukaan. Dan masih banyak lagi penjelasan-penjelasan mengenai fisika dan Al-Qur’an yang banyak sekali referensinya, konsep ilmu fisika in daoat dikaji dengan cara mengamati alam maupun mengkaji beberapa literatur yang oada akhirnya dijadikan sebagai acuan dalam mengembanngkannya. Konsep fisika lainnya adalah, konsep tentang ukuran ( AL-Qamar:3), hujan ( an-Nahl:11), kosmologi ( Fushilat : 9-12), pemuaian alam semesta( al-Dzaariyat:47), gaya gravitasi ( al-Insyiqaaq :3-4), api ( at-takwiir :6), rotasi alam semesta (al-anbiya:33), peredaran bintang (al-waaqi’ah:75-76), lubang hitam (al-mursalaat: 8), pulsar (at-thaariq: 1-3), bintang sirius (an-Najm :9 dan 49), matahari (yasi: 38), atmosfer bumi (al- anbiyaa: 32), atmosfer bumi (al-thalaq:12), bayngan (al-Furqaan:45-46), angin (al-Jatsiyah :5), awan (an-nuur:43), petir (an-Nuur:43), hujan (at-Thaariq:11), angin (al-Hijr:22), siklus air( al-Zumar: 21), gunung ( Luqman: 10), atom (an-Nisaa’:40), sinar laser (an-Nuur:35), relativitas waktu (al-Ma’arij: 4), laju cahaya (Sajadah:5), besi ( al-hadid:25), tegangan permukaan ( ar-rahman: 19-20). Masih banyak lagi yang bisa dilanjutka penelitiannya.

Sejarah kejayaan yang harus di rebut kembali
            Banyak sekali ilmuan islam dengan karya-karya, yang pengaruh hasil karnya ilmiahnya masih dirasakan hingga berabad-abad kemudian didalam perkembangan ilmu pengertahuan eropa(barat). Cendikiawan barat mengakui bahwa Jabir Ibnu hayyan(721-815) adalah orang pertama yang menggunakan metoda ilmiah kemudian oleh barat diambil alih dan mnjadi ilmu kimia. Dia juga orang pertama yang mendirikan suatu bengkel dan mempergunakan tungku unutk mengolah mineral-mineral dan mengekstraksi dari mineral it, zat-zat kimiawi serta mengklasifikasikannya.buku Al- Rozi merupakan buku pegangan laboratorium kimia pertama di dunia, dan masih banyak lagi karya besar yang sangat dibanggakan oleh umat muslim terdahulu, yang tidak bisa ditulis semua disini. sekarang tugas guru menghilngakan dikotomi kalau “barat” lah yang hanya bisa segala-galanya dan segala-galanya dari barat, karena itu salah.karena sejarah itu berbunyi tergantung siapa yang menyampaikan
           
Pandangan modern antara fisika dan agama
            Tahun 1929 terjadi peristiwa penting yang menjadi awal pergeseran pandangan di lingkungan para ahli tentang penciptaaan alam, yang mengubah secara radikal konsepsi para fisikawan mengenai munculnya alam semesta. Sebab dalam tahun itu Hubble, yang mempergunakan teropong bintang terbesar didunia , melihat galaksi-galaksi di sekeliling kita, yang menurut analisis terhadap spektrum cahanyanya tampak menjauhi galaksi kita dengan kelajuan yang sebanding dengan jaraknya dibumi; yang terjauh bergerak paling cepat meninggalkan kita. Kejadian ini merupakan pukulan berat bagi einstein, karena observasi Hubble menunjukkan bahwa alam semesta ini tidak statis, melainkan dinamis seperti model Friedman. Orang berbicara tentang jagad raya berekspansi, dan mereka bingung tidak mengerti apa artinya, sebab dimana-mana terdapat ruang alam. Kalau jagat raya mengalami ekspensi kemana lagi harus dicari ruang yang akan menampng pengembangan? Fisikawan kosmolog menyimpulkan bahwa semua galaksi dijagad raya ini semula bersatu pada dengan galaksi kita, bima sakti, kira-kira 15 milyar tahun lalu,yang awalnya tiada tetapi kemudian tercipta dari ketiadaaan. Kita dapat memeriksa apa yang dinyatakan dalam ayat 30 surat Al-anbiya :
óOs9urr& ttƒ tûïÏ%©!$# (#ÿrãxÿx. ¨br& ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚö‘F{$#ur $tFtR%Ÿ2 $Z)ø?u‘ $yJßg»oYø)tFxÿsù ( $oYù=yèy_ur z`ÏB Ïä!$yJø9$# ¨@ä. >äóÓx« @cÓyr ( Ÿxsùr& tbqãZÏB÷sムÇÌÉÈ

“ Dan tidaklah orang-orang kafir itu mengetahui bahwa langit(ruang alam) dan bumi(materi alam) itu dahulu sesuatu yang padu, kemudian Kami pisahkan keduanya itu”
            Keterpaduan ruang dan materi seperti dinyatakan di dalam ayat hanya dapai dipahami jika keduanya berada pada satu titik; singularitas fisis yang merupakan volum yang berisi seluruh materi. Pemisahan mereka terjadi dalam satu ledakan/dentuman dahsyat yang melontarkan materi ke seluruh penjuru ruang alam yang berkembang cepat sehingga tercipta universum yang berekspansi.  Mengenai ekspansi alam yang menaburkan paling tidak sebanyak 100 milyar galaksi yang masing-masing berisi rata-rata 100 milyar bintang itu, Al-Qur’an mengatakan dalam ayat 47 surat ad-dzariyat :
uä!$uK¡¡9$#ur $yg»oYø‹t^t/ 7‰&‹÷ƒr'Î/ $¯RÎ)ur tbqãèÅ™qßJs9 ÇÍÐÈ
“ Dan langit(ruang alam) itu kami bangun denagn kekuatan dan kamilah sesungguhnya yang meluaskannya”.

            Dari perbandingan semacam ini dapat kita ketahui pada akhirnya, fisika yang dikembangkan untuk mencari kebenaran, sampai juga pada fakta yang di tunjukkan oleh Al-Qur’an. Fakta ini menggusarkana fisikawan sebab mereka hanya membicarakan apa-apa yang dapat di inderakan atau di deteksi dengan perlahan saja, fisikawan mencoba mengelakkan penciptaan alam ini dengan melontarkan teori-teori tandingan seperti alam berosilasi( alam berkembang-kempis), meledak dan berekspansi untuk kemudian kembali lagi mengecil berulang-ulang tanpa awal-akhir, namun kosmos seperti itu tidak dapat dibenarkan secara termodinamis. Usaha lain mengemukakan teori alam yang ajeg( galaksi boleh terbang ke seberang sana tetapi ruang yang ditinggalkannya akan terisi lagi oleh materi baru, tapi teori ini tidak berlaku setelah tahun 1964 Wilson dan Penzias dalam observasinya menemukan sisa-sisa kilatan dentuman besar yang terjadi sekitar 15 milyar lalu.
óOÎgƒÎŽã\y™ $uZÏF»tƒ#uä ’Îû É-$sùFy$# þ’Îûur öNÍkŦàÿRr& 4Ó®Lym tû¨üt7oKtƒ öNßgs9 çm¯Rr& ‘,ptø:$# 3
“ Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segenap penjuru dan dalam diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itulah yang benar”
Itulah ayat 53 surat fushilat. Maha besar Allah dengansegala firman-Nya yang memenuh janjinya dengan memperlihatkan ekspansi kosmos, dan memperlihatkan sisa-sisa kilatan dentuman besar, dan Yang Maha Pengasih dan Penyayang akan memperlihatkan berkali-kali lagi ayat-Nya utnuk menolong hambaNya dari kesesatan. Meski telah jelas fakta-fakta yang diungkap fisika dan para pakarpun tahu, namun dapat perbedaan besar, antara ajaran sains(fisika) dengan agama. Kalau dalam filsafat ilmu mendorong pakar-pakarnya untuk menghindar dari tindakan melibatka Tuhan YME dan mengatakan bahwa alam tercipta dengan sendirinya, maka agama justru Allah SWT-lah pemegang peran utama yang menciptakan universum ini.
Sehingga Nabi Muhammad mengingatkan dalam sebuah hadist “ Barang siapa menghendaki dunia maka ia haruslah memiliki ilmunya; dan barang siapa menghendaki akhirat maka ia harus memiliki ilmunya juga; dan barang siapa menghendaki keduanya maka ia harus menguasai kedua ilmu tersebut”.
Dan hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr ”mencari ilmu adalah wajib bagi setiap mulim dan muslimah”
            Karena kita yakin bahwa ada kehiduan abadi setelah didunia, maka ajarkan lah yang benar dengan siswa, karena kesalahan di awal tanpa ada evaluasi akan berakibat fatal terhadap perkembangan dunia pendidikan kita yang ingin katanya ingin membentuk pendidikan berkarakter. Yang disorot disini adalah “calon guru” pemegang kendali peradaban suatu bangsa, karena gurulah yang mencetak karakter generasi-generasi penerus bangsa akan dijadikan apa negara ini. Terutama sains (fisika) harus disajikan dengan memperhatikan esensi ajaran agama islam yang kitab sucinya mengandung ayat-ayat yang mendorong ummatnya untuk berpikir kirtis serta menggunakan penalaran yang rasional, dan mengajarkan sains secara garis besar, baik mengenai penciptaan alam semesta maupun makhluk hidup serta evolusinya, sebagai bukti kebenaran kandungannya.

Kesimpulan
            Mahasiswa calon Guru berperan sebagai pendidik, terutama guru sains(fisika) harus memiliki kemampuan agama yang kuat agar dapat mengimbangi dan mencegah terjadinya erosi pada landasan moral dan etika pada peserta didik agar tidak terkikis imannya karena pengaruh barat yang sama sekali kuasa Tuhan “ tidak dianggap” atas ilmu yang mereka peroleh, dan guru sains(fisika) harus mengetahui sejarah sains dimasa lampau( kejayaan ummat muslim) yang akan membangkitakan semangat meneliti dan berpikir kristis analitis terhadap fenomena modern saat ini sehingga hilangnya sikap dikotomis pada ummat dan terbinanya manusia yang utuh, yang akan menularkan budaya meneliti terhadap kader-kader ilmiah(siswa) sebagai wujud ketidak puasan berada pada posisi nomor dua dengan memperkenalkan tokoh-tokoh ilmuan muslim dalam masa kejayaan umat, beserta karya-karya mereka. Mengingatkan pada anak didik bahwa mencari ilmu hukumnya wajib, kapan saja, dimana saja, sejak dari buaian hingga liang kubur terutama pengembangan sains(fisika) untuk memperkuat tegaknya umat dan sebagai bukti ketaatan kepada Allah SWT untuk mengembangkan ilmu, dan semakin mendekatkan dan takjub kan kuasa illahi dan kejayaan indonesia akan bangkit kembali, dengan dukungan pemerintah, para pemuka agama, dan semuanya.

Daftar pustaka
Baiquni, Ahmad (1996), Al-Qur’an, ilmu   pengetahuan & teknologi. Yogyakarta:Dana Bakti Prima Yasa.
Mulyon0, agus. Ahmad Abtokhi (2006), fisika & al-Qur’an. Malang :UIN malang pers.
Laksono, eko (2010), Imperium III Zaman Kebangkitan Besar . Jakarta selatan: Hikmah(PT mizan publika).
Arikunto, suharsimi (2008), Dasar-dasar evaluasi pendidikan. Jakarta : Bumi aksara.
Wardhana, wisnu arya (2004), Al-Qur’an dan Energi Nuklir. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Firdaus, Feris (2004). Alam semesta: sumber ilmu, Hukum, dan informasi ketiga setelah Al-Qur’an dan Al-sunnah. Yogyakarta :Insania Citra Pres.
Suriasumantri, jujun s (2007). Filsafat ilmu sebuah pengantar populer. Jakarta: Pustaka sinar Harapan.
Departement Agama RI (2005), Al-Qur’an dan terjemahnya. Jakarta : CV penerbit J-ART.
Resmiyanto, Rachmad (2006): Menggugat Diktum Bebas Nilai Dalan Sains malakalah.disampaikan pada seminar Islamisasi sains. Ruang kuliah S2 Fisika UGM, kampus MIPA selatan, 07 ramadhan 1427H/ 30 september.
Resmiyanto, Rachmad, (2009): wacana hubungan sains dan agama. http://rachmadresmi.blogspot.com/2009/03/wacana-hubungan-sains-dan-agama.html
Hadi W.M, Abdul,(2003): krisis manusia modern: tinjauan falsafah scientisme dan relativisme kultural. disampaikan pada orasi ilmiah dalam rangka peringatan Lustrum I wisuda Universitas Paramadina, Jakarta. Maret.





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Peran Wanita dalam Membangun Mental dan Karakter Bangsa


Peran Wanita dalam Membangun Mental dan Karakter Bangsa Indonesia
By: Julia*
‘Wanita adalah tiang negara, bila ia rusak maka runtuhlah suatu negara’ .Itulah kalimat hikmah yang sering tergaung ditelinga dan kita baca. Dan betul, bahwa setengah kehidupan dan kejayaan sebuah bangsa yang sangat menentukan adalah wanita. Karena wanita adalah madrasah utama dan perdana yang akan membentuk dan memformat generasi penerus suatu bangsa. Pola yang diberikan oleh ibu kepada anaknya itulah yang akan memformat perjalanan  suatu bangsa. Dan terlepas dari itu semua wanita adalah orang pertama yang memberikan kontribusi dalam pemuda dan bangsa. Tapi sayangnya dengan itu semua upaya untuk mengangkat harkat martabat kaum wanita sangat sedikit dan yang sedikit itupun kadang belum tertata rapi sehingga tidak mampu menghasilkan output yang luar biasa. Seperti kenyataan yang kita lihat kini, bahwa kaum wanita merasa dirinya hanyalah makhluk lemah dan tidak berdaya, hanya berfungsi sebagai ibu rumah tangga yang tidak memiliki hak lebih. Padahal Islam telah menggariskan bahwa kaum wanita memiliki kedudukan yang mulia dan eksistensinya diakui. Salah seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah saw.,”Siapakah yang lebih berhak mendapatkan baktiku pertama kali?”Rasulullah saw menjawab, “ ibumu”. kemudia ia bertanya lagi, “kemudian siapa?”Rasulullah menjawab, “ibumu.”Orang itu bertanya lagi,“kemudian siapa?”Rasulullah menjawab “ibumu.”Orang itu bertanya lagi,”kemudian siapa?”Rasulullah saw  menjawab, “Bapakmu.” Dan Rasulullah bersabda “ Tidaklah memuliakan wanita kecuali orang yang mulia, dan tidaklah menghinakannya kecuali orang hina” . Ingatkah ketika ummu salamah(istri Rasulullah saw) yang menyarankan agar Rasulullah keluar dari kemah lalu menyembelih binatang badyu lalu mencukur rambut tanpa berbicara kepada siapapun, saat tahu sahabat protes tentang perjanjian hudabiyah yang ditampakkan dengan keengganan mereka melaksanakan perintah Allah. Dan masalahpun selesai. Demikian islam menempatkan seorang wanita dan menghargai wanita. Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan, “wanita adalah saudara kandung(partner) laki-laki”. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa iblis duduk di istananya di atas air lalau mengundang seluruh prajuritnya untuk dimintai laporan. Salah seorang dari prajurit itu mendekat, lalu melaporkan hasil kerjanya. “saya telah berhasil memisahkan seorang wanita dari suaminya.”Maka iblis turun dari singgasananya lalu memeluknya dan mengatakan “bagus-bagus”.
Dan riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda,” Bagaimana keadaan kalian, bila kaum wanita kalian melampaui batas dan pemuda kalian rusak?”
Hadist-hadist diatas menggambarkan bahwa musuh islam selalu mengupayakan agar kaum wanita rusak dan meninggalkan perannya. Oleh sebab itu, wanita mempunyai peran yang sangat urgen dan fundamental dalam memcoraki karakter pribadi-pribadi suatu masyarakat dan bangsa. Akan dibawa kemana masyarakat tersebut, menjadi masyarakat agamis ataukah ateis? Menjadi masyarakat yang korup ataukah yang berakhlak?Menjadi bangsa yang pengecut ataukah kesatria?. Itu terletak digenggaman wanita. Mengingat begitu fundamentalnya peranan wanita dalam membentuk karakter pribadi sebuah bangsa, ia pun sanggup menjadikan bangsa tersebut unggul atau hancur. Kenapa demikian? Karena sebuah bangsa atau masyarakat adalah komunitas yang terbentuk dari pribadi-pribadi, sedangkan yang membentuk karakter pribadi adalah keluarga. Mustahil ada sebuah masyarakat kalau di sana tak ada keluarga. Sehingga peran wanita dalam perjuangan islam dalam hal membangaun mental dan karakter bangsa adalah mulai dari pembentukan individu muslim, keluarga muslim, masyarakat muslim. Sehingga wanita dituntut untuk paham segala hal mulai dari dirinya sendiri,agamanya, keluarganya/rumahnya,  masyarakatnya dan negaranya. Kita akan bercermin dari sebuah kisah yang patut dipertimbangkan sebagai pelajaran hidup. Ada seorang ulama besar alim dan saleh bernama Allamah Majlisi. Suatu hari, selepas melaksanakan shalat Jama’ah yang diimami oleh ulama itu sendiri, seorang makmum datang menghadapnya untuk mengadukan ihwal perilaku anaknya yang telah melubangi tempat airnya (tasyk) sehingga airnya habis. Setelah mendengar pengaduan tersebut, ulama besar itupun lantas bergegas kembali ke rumah dan bertanya pada istrinya; apa yang dilakukan semasa mengandung anaknya itu sehingga melakukan perbuatan yang tidak terpuji,, ia mendesak, ”Wahai istriku, apa yang engkau lakukan ketika masa hamil sehingga anak kita melakukan perbuatan tercela, padahal aku senantiasa memberikan makanan yang halal kepadamu? Sang istri menjawab: “Aku tidak melakukan apa-apa”. Ulama itupun berkata lagi: “Coba engkau ingat-ingat kembali!”
Sang istri berusaha mengingat-ngingat kembali, sampai akhirnya ia sadar akan suatu kejadian lalu berkata kepada suaminya: “Ya, aku ingat sekarang apa yang telah aku lakukan sehingga anakku melakukan perbuatan tercela ini. Suatu hari pada masa aku mengidam, aku lewat di sebuah gang. Di pinggir gang itu, ada sebuah pohon delima yang sebagian dahannya merunduk sampai ke gang. Melihat buah delima yang ada di pohon tersebut, belum lagi aku sedang mengidam, rasanya enak sekali kalau memakannya, kemudian aku mengambil penitik (jarum) dan menusukkannya kesalah satu buah delima. Setelah mendengar cerita tersebut, ulama itupun berkata: “Inilah perilakumu yang menyebabkan anak kita sampai melakukan perbuatan tercela. Dulu, kau menusuk buah delima dengan penitik, sekarang anak kita menusuk tempat air orang lain”.
Sekilas, apa yang telah dilakukan istri ulama tampak sepele, tapi bagaimana akibatnya. Dan kita dapat mengambil pelajaran dari cerita di atas untuk kembali mengintropeksi diri kita sendiri. Betapa pentingnya ilmu dan al-fahmu terhadap wanita, sehingga tidak dikatakan kepada wanita”cetaklah anakmu menjadi baik, tetapi kondisikan dirimu untuk komitmen pada prinsip-prinsip kebaikan, sebab dengan begitu anda membuat contoh yang akan ditiru oleh anak-anakmu.”. Dari sini terlihat sekali peran seorang ibu dalam membentuk karakter anak, bahkan sebelum lahir karakter yang dicontoh adalah apa yang pernah ibunya ajarkan, padahal masih didalam kandungan. Terlebih lagi ketika sudah dilahirkan di dunia, pelajaran yang anak dapat dari ibunya lah yang akan mewarnai dirinya, warna dominan anak ada dari ibunya. Ibu yang mengajarkan tentang kobohongan, maka itu yang akan tertanam dalam jiwanya, ibu yang mengajarkan dia berbicara kasar, maka karakter anak adalah kasar&pembohong, dsb. Sehingga wanita dituntut untuk cerdas, berilmu, dan faham mengenai seluk-beluk kewajiban dan betapa mulia dirinya. Mulai dari kewajibannya terhadap agamanya, akalnya (yang berkaitan tentang pemahaman aqidah, fiqih ibadah, Al-Qur’anul karim dan Ulumul Qur’an, sirah nabawiyah, fiqih dakwah dan amal, pengetahuan sejarah islam(peperangan, perpolitikan), sistem sosial islam, pengetahuan modern baik tentang sosial masyarakat, ekonomi, kesehatan, dll),  terutama kewajibannya terhadap keluarga dan masyarakatnya.
            Peran wanita dalam rumah tangga/keluarganya/rumahnya juga perlu diperhatikan, wanita harus membangun rumah tangganya sejak awal diatas dasar taqwa dan menebarkan semangat Rabbani yang harum didalamnya, dan menjadikan segala apapun yang berada didalamnya menjadi pemacu kebajikan dengan menata perabotan dengan baik, menjaga kebersihan dan kesahajaannya. Berkomunikasi dengan baik dengan suami maupun orang-orang terdekat yang akan ikut membentuk karakter anak kita, sehingga akan muncul kesinkronisasian antara visi ibu, suami dan kerabat dalam membentuk karakter anak. Pemahaman-pemahaman yagn diberikan kepada anak juga merupakan keahlian yang harus dimiliki seorang ibu, jangan sampai hanya karena tidak ingin anaknya menangis, seorang ibu sering berbohong kepadanya, sehingga menyebabkan jiwa anak tumbuh tidak baik.
            Peran wanita dalam masyarakat/publiknya juga tidak kalah penting, seorang wanita bukan berarti dia hanya mengurusi keluarga dirumah tapi juga menyeru pada kebikan dengan orang banyak, yaitu berdakwah dengan masyarakatnya, sesuai dalil “siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih dan berkata,’sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserahdiri’”(Q.S.Fushilat ;33). Dengan ilmu yang sudah mumpuni, seorang wanita bisa langsung memberi contoh konkrit kepada masyarakat dengan teladan baik,  misal tidak bertabarruj’dandan berlebihan’, ramah, sopan santun, lemah lembut. Yang semua itu harus pula diiringi dengan menjadikan seluruh amal, gerak dan isyarat sebagai manifestasi keterikatan pada idealisme yang tinggi, keinginan kuat untuk menerapkannya dan kecintaan padanya, sehingga pelaksanaan idealisme tersebut menjadi suatu kebiasaan yang melekat. Keteladanan seperti itulah yang dapat mengilhami dan membangkitkan semangat orang lain serta dapat membangun rumah tangga yang ideal, lingkungan yang baik dan masyarakat yang mulia.
            Harus dipahami bahwa seorang wanita tidak akan memiliki pengaruh ditengah masyarakat, kecuali ia memiliki kepribadian yang kuat. Dengan ini semua insyaAllah dari seorang wanita, yang nantinya akan menjadi tauladan perdana untuk anak-anaknya, sehingga anak juga ikut memiliki karakter kuat yang telah ditanamkan oleh ibunya, anak berkembang dengan baik dikeluarga yang telah di sulap seorang ibu menjadi tempat anak menempa diri, dan karena itu ibu telah merubah lingkungan menjadi baik, sehingga masyarakat yang muncul adalah masyarakat yang berkarakter mulia(bangsa yang berkarakter). Wallahu’alam

Referensi :
1. Fiqih Dakwah Ummahatul Mukminin(Dr,Khalid bin Muhammad),
2. DWIM peran dan sejarah perjuangannya(mahmud Muhammad Al-jauhari).dll

*Penulis adalah mahasiswi semester VI pendidikan fisika Universitas Ahmad Dahlan(UAD), sekarang masih aktif sebagai Ketua Departemen Kaderisasi KAMMI Komisariat Ahmad Dahlan, Ketua Departemen SKI Himpunan Mahasiswa Program Studi pend.fisika, Sekretaris umum Physic Education Research and Inovation Group UAD, dan Asisten Laboratorium fisika dasar UAD.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

metopen-1

Latar Belakang_Metopen

    Dalam Pembelajaran fisika pada sekolah tingkat menengah Pertama banyak hal yang harus diperhatikan oleh guru selaku pendidik dan pengajar dalam matapelajaran. Terlebih fisika yang dianggap sebagai momok yang menyeramkan di pikiran siswa.hal-hal yang harus guru perhatikan adalah sebagai berikut : Kesiapan guru dan profesionalisme guru, memperhatikan psikologi siswa, kondusif kelas, materi yang siap, media penyampaian materi yang sangat berpengaruh dalam penerimaan materi yang bisa diterima siswa, serta metode ajar yang ajar yang akan guru gunakan sehingga pembelajaran bisa berjalan lancar dan menyenangkan, tidak lupa pula guru mengalokasikan waktu yang disediakan untuk mencapai SKL dengan membuat Silabus dan Rancangan Pembelajaran. disini akan saya uraikan sedikit penjelasan lebih lanjut dari point-point di atas.
1.) Profesionalisme guru
    Guru fisika harus memiliki dasar ilmu fisika yang matang karena guru yang akan mensuply ilmu kepada siswa, serta memiliki attitude sebagai pendidik, sehingga selain penguasaan materi yang harus sudah di kuasai, guru juga memiliki attitude kepada siswa, karena siswa yang dihadapi guru tidak hanya satu, tapi banyak. jadi guru harus mengetahui psikologi pendidikan( cara mengajar, mendidik dan mengatasi pola siswa yang berbeda-beda). sikap guru sangat mempengaruhi penerimaan siswa terhadap guru, akhlak dan moral guru yang baik, akan tertular kepada siswa, sehingga timbullah wibawa seorang guru yang akan di hormati siswanya. siswa-siswa akan merasa senang dengan pelajaran ketika siswa sadah menyenangi gurunya.
2.) Kesiapan Materi yang matang
    Materi ajar harus sudah disiapkan dengan matang sebelum pelajaran dimulai, bisa dimulai dari patokan SKL ( standar kelulusan), yang berlanjut pada pembuatan silabus dan pembuatan perancanngan pembelajaran, tidak lupa dalam setiap materi guru mengalokasikan waktu yang dibutuhkan dalam setiap materi sehingga pembelajaran bisa tuntas sesuai SKL. bahkan lebih baik ketika guru mampu mengimprovisasi SKL yang sudah ada, agar siswa mendapat pengetahuan lebih.
3.)Ruang Belajar yang Kondusif
    kelas juga salah satu faktor yang mempengaruhi siswa dalam belajar, fasilitas-fasilitas yang ada juga perlu diperhatikan dalam penyampaian materi, apakah disana terdapat media ajar yang cukup memadai atau tidak, sehingga guru dituntut untuk lebih kreatif manakala guru fisika yang ditempatkan disekolah pelosok yang listrik saja belum ada. sehingga skill guru juga di uji disini ketika kesediaan fasilitas terbatas untuk penunjang pembelajaran. Namun fasilitas dan kenyamanan juga mempengaruhi output belajar.
4.) Dan metode pembelajaran menjadi penting ketika guru ingin menyampaikan materi, sesuai materi ajarnya, misal guru akan menyampaikan “clue”/ gambaran konsep fisika dalam kehidupan sehari-hari, sehingga siswa mudah memahami untuk materi selanjutnya. metode-metode ajar ini merupakan bagian dari strategi agar pembelajaran efektif. Guru juga bisa menyediakan modul dan test, baik prabelajar atau pasca belajar, yang sebelumnya itu dilakukan untuk mengetahui kondisi siswa, kemampuan siswa dan minat siswa pada pelajaran yang akan kita ajar, sehingg guru bisa mendekati siswa secara personal setelah tahu “apa-apa yang terjadi dalam diri siswa”
test untuk siswa juga bisa dilakukan saat  ereka selesai menerima materi. agar guru bisa menilai sejauh mana keberhasilannya dalam mengajar
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

kisah cinta Ali-Fatimah

Kisah ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah
chapter aslinya berjudul “Mencintai sejantan ‘Ali”
Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.

Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.


Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.


Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.



”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.


Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.


Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.


”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.


’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”

 
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.

’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.
 

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.


Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.


Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

 
”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.


”Ya. Engkau wahai saudaraku!”


”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”


”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”


’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”


”Entahlah..”


”Apa maksudmu?”


”Menurut kalian apakah
 ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”

”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,


”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua!
 Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.


Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
 

’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”


‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”


Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”


Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus
 Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:


“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab
 Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4). 


*re-post dari note seorang sahabat...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dakwah Kampus Ideal


                      Dakwah Kampus Ideal                    
Bismillahirrahmanirrahim........
            Ketika kita berbicara tentang dakwah, amat berat terdengar di telinga dan tanggung jawab yang besar, tapi tidak ketika semua yang dlakukan karena Allah.  Ketika kita berbicara tentang kampus, tentulah terdapat civitas-civitas akademika didalamnya. Civitas akademika adalah komunitas kecil, elit, yang terdiri dari sedikit orang yang beruntung untuk mengenyam pendidikan di prguruan tinggi negeri, serta dipercaya oleh masyarakat dan pemegang kekuasaan negara sebagai komunitas yang memiliki kapasitas KEILMUAN (intelektualitas) dan profesionalisme lebih dibanding kominitas lainnya. Maka  dakwah kampus menjadi bernilai penting. Sehingga tujuan dari dakwah kampus ini adalah sebagai berikut :
“ membentuk civitas akademika yang bercirikan intelektualitas dan profesionalitas, memiliki komitmen yang kokoh terhadap islam, dan mengoptimalkan peran kampus dalam upaya mencapai kebangkitan islam”.
            Melalui dakwah kampus diharapkan lahir intelektual-intelektual muda yang profesional dalam bidang yang digelutinya dan tetap memiliki ikatan dan keberpihakan yang tinggi terhadap islam. Merekalah pembaharu-pembaharu yang dapat melakukan perubahan-perubahan kondisi dimasyarakat menuju kehidupan islami hingga akhirnya terwujud  bersama cita-cita kebangkitan islam. Kemudian kita bentuk Lembaga Dakwah kampus yaitu lembaga yang consent dalam aktivitas dakwah kampus, maka sebagai unsur lembaga dakwah misinya adalah melakukan islamisasi kampus dengan visi menjadikan kampus sebagai pusat peradaban dan intelektual dengan memusatkan ke arah islam, yang tidak di pungkiri bahwa civitas akademika, kelak akan menjadi bagian yang paling menentukan dalam perubahan masyarakat. Dan untuk mencapai tujuan dari dakwah kampus itu sendiri.
“ sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”.(QS.Ar-Ra’du:1)
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas, lagi Maha Mengetahui(QS.Al-Maidah:54).
            Allah tidak akan mengubah diri kita( kampus kita) kecuali kita yang mengubahnya, sudah saatnya bergerak dan termasuk dalam jundi-jundi Allah, ketika kamu berpaling maka Allah sendiri yang akan mencari pengganti kamu dengan orang yang lebih baik, tinggal kita mau apa tidak masuk dalam barisan mulia ini. Adapun dakwah kampus ideal mungkin sudah banyak beredar artikel, buku yang menulis tentang itu semua.
            Tidak dipungkuri jika sesorang yang memiliki ruhiyah dan tarbiyah yang kuat, maka kuat lah jiwanya, kuatlah dirinya untuk mampu mengajak orang lain dalam  islam yang sebenarnya.
Dakwah kampus akan kuat dimana orang yang menggerakan yang biasa disebut aktivis dakwah(ADK) memiliki 4 kretiria:
1.      Memiliki tarbiyah(ter-tarbawi dengan baik) dan artinya dia memiliki ruhani yang sehat dan tinggi: persoalan ibadah merupakan hal yang sangat penting bagi ADK. Harus senantiasa mendekatkan diri pada Allah, sehinga kita juga akan dibantu oleh Allah dalam setiap usaha yang di lakukan.
2.      Memiliki kecerdasan organisatoris dan kecerdasan lainnya :kemampuan dalam manajemen organisasi kampus, agar dakwah tidak keluar jalur, kecerdasan mengelola emosi, mengelola hati, bijak dan ketegasan, cerdas akademika bidang yang di geluti maupun keilmuan yang ada. Kecerdasan strategi, layaknya Rasulullah melakukan pendekatan personal one by one, sehingga terbentuklah kader-keder inti sebagai pendongak langkah dakwah beliau selanjutnya, menolong tanpa meminta upah, tidak sakit hati ketika di cela, ini merupakan bagian dari kecerdasan-kecerdasan yang hars dimiliki, karena jika tidak, maka kamu hanya akan dapat kecewa terhadap manusia saja.
3.      Memiliki stock gagasan dan pemikiran yang banyak: fungsinya untuk mendinamisasikan diri. ADK harus kaya dengan ide-ide dan improvisasi. Banyak membaca risalah-risalah terdahulu, perjuanngan Rasulullah dan para sahabat, karena siapa lagi yang memiliki strategi dakwah yang tangguh selain Rasulullah SAW dan kesabaran dan keikhlasan para sahabat, sehingga islam bisa menerangi sekalian ummat d dunia hingga sekarang ini. Yang dilakukan Rasulullah adalah pencitraan, mulai dari sifat beliau yang mulia, Shiddiq (benar dan jujur), Amanah, (Dapat dipercaya, Tabligh, (Menyampaikan), : Fathanah, (Cerdik, Pintar dan Bijaksana). Sehingga siapa yang bisa menolak apa yang beliau katakan, kecuali orang-orang yang fasik dan sudah tertutup hatinya. Sehingga ADK di harapkan cinta membaca dan mampu menganalisis kondisi yang ada.
4.      Memiliki semangat yang kompetitif : kompetisi adalah satu syarat untuk mendinamisasikan diri. Jiia kita tidak mempunyai semangat kompetisi maka kita akan menjadi seorang pecundang (Looser). Sehingga ADK memiliki strategi-strategi terstruktur dalam pengelolaan para kader, ntah itu dalam perekrutan ataupun, pengkaderan dan yang tidak kalah penting dalam ADK adalah “ SIAPA penerus estapet dakwah antum berikutnya??” banyak ADK yang kadang menyepelekan hal ini, ketika merek sudah berada di panggung wisuda, mereka masih kebingungan yang kan melanjutkan posisi mereka siapa, karena mereka terlalu sibuk hanya membersayakan diri sendiri, kader bawah hanya sebagai konsumtif, jarang d ajak terlibat langsung dalam perumusan dal lain-lain. Padahal SDM nya banyak tapi bagaikan buih, tidak ada yang matang, bahkan mereka kabur karena mereka merasa tidak di anggap dan  tidak ada, tidak sedikit aktivis yang berlaku seperti ini, mereka sudah lulus, kemudian menikah, tapi mereka masih memikiki PR yang belum usai, penyampaina RISALAH yang belum selesai, sehingga kader-kader harus mulai dari NOL lagi, kerena belum terlalu paham dan sebagainya. Ini hal penting yang harus dperhatikan.
Terlepas dari strategi-strategi dakwah yang ada pembahasannya sendiri, bangunan akan kokoh jika perangkat-perangkat penyusunya bisa bekerjasama dan tidak terpecah-belah, sehingga sangat penting untuk  terus meng-upgrade diri, dan saling mengingatkan satu sama lain,dengan cara apapun itu secanggih apapun manhaj yang di gunakan ketika personal yang menggunakannya sudah “ mobok”, maka tidak akan berjalan dengan baik.
dan juga ketika di atas saya menyatakan pentingny kita membaca. Dan agar kita tidak terbawa hegemoni-hegemoni yang ter-frame dalam otak kita karena pengaruh barat jika kita tidak modern jika tidak mngikuti gsys mereka maka kita bukan manusia modern. Sejak dulu umat islam sudah mampu mengmbangkan teknologi sebelum mereka(barat), para ADK belajarlah dari masa lalu(sejarah) karena orang yang mau mempeljari sejarah dia tidak akan jatuh pada lubang kesalahan yang sama, dan akan mampu kebangkitan masa depan apa yang akan dia  perbuat untuk umat. Wallahu’alam..

by: aisy_julia



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Belajar dari ustadz Rahmat Abdullah dalam masalah kontemporer jamaah

Berikut percakapan Ustadz Rahmat Abdullah dalam film Sang Murabbi.
“Ane mau curhat nih stad. Ane liat nih Sekarang ngajinya dah pada kendor, tiap liqo yang diomongin politil mulu. Kayanya ga ada omongan selain itu.” Kata mabruri.
Ustadz Rahmat berkata, “Ane paham apa yang antum rasakan, dan temen-temen rasakan. Jadi, ane pengen cerita nih, akh mabruri, tentang monyet,”
“Monyet? Emang kita monyet?” Tanya Mabruri.
Ustadz berkata, “Bukan, maksudnya, ni ibarat, jadi gini, akh mabruri, jadi ada seekor monyet ni. Akh mabruri. Dia naek trus sampe ke pucuk pohon kelapa. Tapi diem-diem ada 3 jenis angin nih yang bukan sembarangan nih angin, ada angin topan, angin bahorok, angin puting beliung. Siap nih, ngincer tu monyet. Siap nih. Plan-plan, plek. Kaga jatoh!”
“Makin kenceng,” Sela Mabruri.
“Makin kenceng aje pagangannnya. Tapi dateng nih, akh mabruri, angin yang sepoi-sepoi nih dateng deh, pelan-pelan, pelan-pelan, diincer tuh ubun-ubunnya tuh monyet diincer. Seeet, seer ngeriep-ngeriep tu monyet, matanya ga ngeliat lagi dah, tangan lepas dah, itungan berapa detik, jatoh dah.” Lanjut Ustadz.
“Jatoh, stad?” Kata Mabruri.
“Subhanallah, akh mabruri, nah ibaratnye begitulah tantangan dakwah kita. Jadi klo kita di uji sama yang sempit, kesedihan, kemiskinan, kuat kita, akh mabrur. Tapi klo kt di uji sma ksenagan, akh mabruri, sebentar doang, plek, jatoh dah. Jadi kesimpulannya nih, akh mabruri, antum jangan jadi monyet.” Ustadz mengakhiri.
Percakapan lain antara Mabruri dengan Ustadz Rahmat Abdullah
“Temen-temen gimana kabar?” Ustadz bertanya.
“Begitulah ustadz, makin jadi-jadi aje. Ngomongnya politik melulu. Ngajinya makan lemah, hamasah sama ruhiyahnya makin tips tuh stad, gimana yah?” Jawab Mabruri
“Akh, antum ingatkan deh, likullim marhaatin rijaluha wa likullim marhaatin masaakiluha. Jadi, setiap marhalah itu ada rijalnya, setiap marhalah ada masalahnya. Jadi, kita, masing-masing kita, ada cobaannya dari Allah swt. Begitu juga dakwah kita. Obatnya, mabruri, adalah kesabaran, keikhlasan antum, pengorbanan teman-teman, dan kita kembali ke asholah dakwah. Kita ngapain dakwah ini, kita cemplung dakwah ini, kita habis-habisan dakwah ini. Kenapa? Karena Allah saja. Kita inget bagaimana Kata Allah swt, bagaimana kata rasul. Udah selesai…” Jelas Ustadz.
“Kita ini udah Gatel stad,” Mabruri menyanggah.
“Paham, paham” Ustadz bicara.
“Keadaannya udah kaya meledak begitu,” Lanjut Mabruri.
“Paham, paham ane. Shobron ‘ala shobron. Antum berikan sabar diatas sabar kepada Allah swt. Allah akan segera dateng dengan jalan keluarnya.” Ustadz Mengakhiri tausiyahnya.
Sedikit saja analisis penjelasan.
Ikhwah fillah, kejadian yang saat ini banyak dibicarakan, ternyata sudah terjadi pada masa Ustadz Rahmat. Namun, ustadz Rahmat menjelaskan dengan sabar dengan penjelasan diatas. Mungkin ini juga yang dilakukan oleh Ustadz Hidayat dan para asatidz lainnya dalam menaggapi masalah ini. Maka, murabbi ane juga mengatakan bahwa periode ini, kita memperkuat kembali kaderisasi kita, menguatkan iman dan ruhiyah kita. Memang, satu mihwar dengan mihwar yang lain tidak boleh putus, mungkin hanya beda proporsi. Namun, hemat ane, mihwar muasasi perlu proporsi yang sangat besar walau mihwar telah berganti.
Ustadz Rahmat juga tidak keluar dari jamaah seperti banyak yang saudara kita lakukan. Shobron ‘ala shobron. Inilah tantangan, bukan dihindari, tapi diselsaikan. Ustadz rahmat juga bercerita tentang seorang al-akh yang dua kali tidak hadir karena ada ayahnya datang dan pekan berikutnya ibunya datang. Allah tidak akan memberikan ujian tambahan jika kita tidak lulus pada ujian pertama. Jika ujian sekarang tidak bisa kita lalui, maka tidak dapat kita pastikan dengan baik bahwa kita bisa melewati ujian berikutnya.
Maka, tidak layak jika seorang akh mengatakan, “Jika Ustadz Rahmat Abdullah masih hidup,,,,” untuk mengkritisi kondisi ummat sekarang. Bahwasannya Ustadz Rahmat telah wafat, namun taujihnya masih bisa kita rasakan. Sebagimana perkataan Abu Bakar dalam menangani masalah Umar yang tidak mempercayai wafatnya Rasulullah. Jamaah ini tidak bergantung pada sesosok manusia, even itu Ustadz Rahmat.
Inilah tantangan dakwah dan diri kita. Selesaikan, dan kita akan mendapatkan tantangan berikutnya yang lebih besar.
Alhamdulillah, Allah mengizinkan ane untuk mendownload film ini sehingga bisa menjadi charger jika masalah dalam jamaah selalu hadir. Teringat dengan buku-buku dan tulisan-tulisan beliau. Ada baiknya, kita mengulang beberapa kata-katanya yang ringan namun berat. Tentu dengan tidak melebihi konsentrasi kita pada Allah dan Rasulnya.
Wallahu A’lam
mengutip dr "ruang belajar garakan intelektual"..subhanallah, syukran
sumber: http://thechangemaker.wordpress.com/2011/04/15/belajar-dari-ustadz-rahmat-abdullah-dalam-masalah-kontemporer-jamaah/
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS