RSS
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Rumah kedua" SMP MUH. 2 Prambanan"


SMP MUH 2 Prambanan

suasana ling.muh 2
Bismillah diniatkan karena Allah, dan di suguhkan dengan kehangatan calon seorang guru sebagai seorang pendidik, berharap bisa memajukan pendidikan kita menjadi lebih baik..SMP Muhammadiyah II prambanan-Piyungan ,, itulah nama rumah kedua setelah rumah untuk 3 bulan kedepan. ketika semuanya sudah dipersiapkan, bukan pendidikan SMP sebenarnya yang di inginkan dan dipilih, namun ternyata Allah menakdirkan diri berada untuk berkontribusi disini. Setiap guru tentunya berharap mendapat tempat yang baik, yg sudah kondusif, nyaman, modern, siswa-siswi dengan kapasitas intelektual tinggi. sungguh akan terasa mudah dan menyenangkan ketika berada di posisi sepeti itu. Mengajar tidak perlu terlalu dari "0", dan memahamkan dengan sulit. Namun ternyata lagi-lagi Allah ingin menempa diri ini untuk menjadi "SUPER TEACHER" untuk lebih kreativ, inovatif dan berkontribusi lebih. *InshaAllah aamiin mg Allah mudahkan.
Inilah pemandangan pertama yang saya saksikan dari tempat sekolah yang akan saya ajar.
Sekolah ini didirikan 1 september 1977, sudh cukup tua memang, kepala sekolahnya adalah Ibu Deswanti S.T. dan baru di amanahi untuk mengelola sekolah ini sejak agustus 2011, masih baru namun beliau sudah melakukan renovasi besar-besaran. kalau dilihat dari miniaturnya akan dibuat gedung bertingkat. banguan yang tersisa hanyalah kantor guru dan ruang kepala sekolah yang minimalis. pada akhirnya ibu deswanti memberikan pengarahan " nanti kalian jangan kaget dengan anak-anak yang sekolah disini, karena rata-rata dari mereka adalah anak-anak gunung, kadang mesti naik sepeda yang sebelumnya jalan kaki, karena tidak memungkinkan sepeda digunakan dijalan itu* tidak terbayang jalannya seperti apa.dan ada yang jalan kaki dari gunung sana,sehingga diantara mereka ada yang jam 05.00 pagi sudah berangkat menuju kesekolah saking jauhnya," pemberitahuan singkat ini, sungguh membuat diri menjadi lebih "tertohok", dimana diri mempersiapkan di kondsi yang sekiranya sdh kondusif dan anak kota, tapi disini kita dihadapkan dengan "SANG PEJUANG BANGSA" sy akan menyebut mereka, karena merekah nanti generasi muda pembela bangsa. Karena rata-rata orang sukses adalah mereka yang lahir dari kesusahan dan dengan perjuangan keras, semoga nanti kalian lah yang bisa membuat negara ini bangga nak. beliau melanjutkan " Tidak sedikit, anak-anak yang bersekolah disini akan melanjutkan sekolah ke jenjng berikutnya, rata-rata dari mereka yang sudah lulus, akan ikut orang tua kesawah, ngangaon sapi/kambing lantas permasalahan ekonomi, sehingga disekolah ini lebih di utamakan 'LIFE SKILL', misal, anak di ajarkan membuat produk yang mmg bertebaran disekililing"kripik ubi, telo, atau kerajinan lainnya. dan juga mereka akan kami berikan sepasang ayam,yang kemudian mereka pelihara sampai mempunyai telor> menetas > dan menghasilkan bibit ayam lainya untuk dirawat dan diternakkan sendiri, sehingga ketikamereka butuh biaya bisa menjual ayam ternak mereka, dan ketika  lapar mereka ada ayam untuk disembelih. setelah beranak pinak, sepasang ayam pertama yang diberikan dkembalikan lagi ke kakak tingkat mereka utnuk di biakkan kembali" tertohok kembali ketika kita disini dengan fasilitas alhamdulillah memadai dan mencukupi kadang masih saja kurang bersyukur atas semua nikmt yang telah ALLAH beri di tengah2 keterbatasan orang lain dan kecukupan diri.
ahh,tidak sabar menanti wajah-wajah syurga, yah dengan melihat anak-anak bahagia dan menerima kehidupan dan pendidikan layak hati ini begitu tentram.
dkarenakan sekolah ALL out renovasi, kami para guru akan mengajar ditempat pengungsian ( jiahh serasa ikut INDONESIA MENGAJAR yg fi tempatkan di pelosok dengan fasilitas terbatas) yaitu di SD Bleber 2km dari SMP MUH 2. tentunya jam terbang kami menjadi berbeda. Pagi hari SD di gunakan untuk aktivitas sekolah SD, sehingga kami para guru akan mengajar siang hari setelah SD pulang. hmmm tantangan baru lagi disaat orang kuliahnya sore, berarti saya harus malam.. :(
Menjadi GURU SEJATI, ketika kita bisa membuat semua keterbatasan menjadi tempat yang juga mendukung untuk mengajar dan mendidik anak-anak.
anak-anakku, sebentar lagi ibu kan datang untuk memeluk kalian dan kita belajar bersama,, inshaALLAH yaaa.. menanti 16 juli 2012*** edisi penerjunan.. Allah meridhoi..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

kami pemuda berkarakter


Kami Pemuda Berkarkter *

Bicara pemuda teringat akan presiden soeharto, rezim  orde baru yang dipimpin selama 32 tahun yang penuh dengan KKN ( Korupsi Kolusi Nepotisme),  tontonan teater negara yang sarat dengan kekerasan, masyarakat menjadi penonton bisu meski terkoyak atas kebrutalan pertunjukan, tak mampu berbuat hanya diam menerima nasib, rakyat yang tidak dimanusiakan, semua mengetahui kisah ini, kemudian muncullah sekelompok mahasiswa ’98 yang bergerak dan dengan gagah berani mengguling pemerintahan tirani. Keberanian, idealisme, dan semangat pemuda kemudian berdampak ke seluruh masyarakat di Indonesia. 
Dari sini mengingatkan kita beberapa minggu lalu 20 mei adalah hari kebangkitan nasional yang seharusnya membuat pemuda merenung dan bersatu padu untuk mencipta karya yang lebih untuk menuju perubahan agar Allah ridho dengan negara ini, menjalankan misi pemuda terdahulu menyerukan kalimat Allah di muka bumi. Pemuda-pemuda luar biasa pada Zaman Rasulullah seperti Sa’ad bin Abi Waqqas (17 th), Ali bin Abi Thalib (8 th), Az Zubair bin Al’awwam (8th), Al Arqam bin Abil Arqam(12th), ja’far bin Abi Thalib (18 th), Usman bin Affan (20th), Mus’ab bin Umar (24th), Bilal bin Rabah (30th)1 , masih banyak lagi sahabat Rasul yang berperan serta menegakkan kalimatullah. Mereka sebagian pemuda yang berperan mengubah wajah dunia atas nikmatya islam yang kita kecap sekarang. Mereka merupakan pemuda yang berani merubah dirinya dengan tarbiyah(pendidikan) Rasulullah di Daarul Arqaam demi mendapatan keridhaan Allah dalam menjalani kehidupan. Tarbiyah menjadikan mereka pribadi unggul dan kuat serta berkarakter islami. Mampu berperan dalam membangaun masyarakat yang islami membantu Rasulullah saw.
Pendidikan (tarbiyah) digaris bawahi disini,tidak salah jika Hamid Fahmy, M. Arifin Ismail, dan Iskandar Amel mengatakan pembangunan masyarakat harus dilandaskan pada konsep pengembangan individu yang mengarah pada pembentukan manusia beradab yang dapat mnghadapi segala problematika kehidupan tanpa kehilangan identitas diri.2  Dan menurut Al- Attas, pembentukan individu yang beradab tersebut,secara strategis, dapat dimulai dari pendidikan universitas, tetapi pendidikan universitas tersebut harus terlebih dahulu diletakkan dan didasarkan pada interpretasi yang benar terhadap hikmah ilahiah sehingga mampu melahirkan sarjana, ulama,  ilmuan dan pemimpin Muslim yang memiliki pandangan hidup islam(berkarakter). Sejarah telah membuktikan bahwa keagungan suatu masyarakat tercermin pada kualitas perguruan tinggi masyarakat tersebut.3
Sedangkan hari ini umat islam lebih banyak mendirikan universitas yang hanya meniru pola dan model universitas barat, yang seharusnya berbeda mulai dari bentuk, konsep, struktur maupun epistmologinya. Al- Attas beranggapan universitas merupakan sebuah institusi yang paling kritis, yang darinya akan bermula kebangkitan dan reformulasi pendidikan dan epistemolgi. Universitas disemua negara, misalnya adalah tempat individu- indvidu ynag menonjol dalam menjalani pendidikan dan latihan.
Al- attas memberikan tujuan dasar misi nabi : Mendidik individu menjadi dewasa dan bertanggungjawab.4 ketika menebarkan pengaruh, suatu negara atau kebudayaan biasanya cenderung mengembangkan kajian-kajian intelektual untuk memperkenalkan khazanah dan warisan keilmuanya.
Sehinggga bisa dikatakan bahwa masalah yang melanda Dunia Muslim dalam beberapa abad ini, bersumber pada institusi-institusi pendidikan tinggi mereka. Dengan itu kita pemuda berada disini sekarang, mengikuti sekolah karakter karena kita berada di universitas dan akan menjadi power of change, dengan pemikiran yang matang, bertanggungjwab dan berislam secara kaffah untuk kembali kedaerah masing-masing untuk membentuk dan manata sistem demi sistem yang masih harus dperbaikin tidak berarti pula dari sekian penjelasan semua orang harus terlibat dalam instasi keguruan, tapi setidaknya setiap orang menjadi guru bag dirinya dan orang-orang disekitarnya.
Salam pemuda !! kami pemuda berkarakter, berkarakter Islam !!
Harapan itu masih ada,inshaAllah...wallahua’lam..
Pustaka
1.       Al-Mubarakfuri, syaikh Syafiyyurrahman. 1997. “sirah nabawiyah”.jakarta : al-kaustsar
2.       Wan mohd nor wan daud. 2003. “Filsafat dan Praktik Pendidiakn Islam”.bandung : mizann (utk note 2,3,4)
**by : Julia

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Belajar dari Penjual Nasi Goreng


Belajar dari Penjual Nasi Goreng
            Senja mulai enggan menampakkan dirinya, menyembunyikan kecantikan dan keelokkan untuk sesaat, berganti gelap menguasai, bertanda waktu magrib telah tiba. Seorang remaja asik mengayuk sepeda onthelnya sedari mengajar private. Dengan agak tergesa dia tiba didepan penjual nasi goreng dan mie rebus, dy masih mikir mau beli apa ya?, azan pun berkumandang..si penjual tergesa2 bertany, “ beli apa dek?” tanya si istri si penjual.
“hmmm apa ya bukk,bentar ya”, jawab si gadis sambil mikir. “ nasi goreng aja ya, tuh udah jadi dek, udah azan ini saya mau sholat dulu” tukas di bapak nasi goreng.  “o ya sudah, nasi goreng ja bu“ pasrahnya.
“ oh iya dek, itu sudah di buatkan,tinggal dibungkus kok” ibu menguatkan pilihan si gadis.
            sepasang suami istri ini penjual nasi goreng di malam hari, sang istri bekerja sebagai penjual sate keliling kalau siang hari, dan membantu suaminya kalau sudah magrib untuk mendagangkan nasi goreng dan mie rebus. Tiba-tiba si bapak nyelonong aja pergi kemasjid, sambil bawa dompet jualan. Si gadis bertanya “ ibu kalau sholat gimana bu? Gantian ya? Gantian jaga jualan?”, dengan terburu2 sambil bungkus nasgor ibunya bilang “ gak, gak dek”.
si gadis masih bingung “ ibu gak sholat maksudnya?, atau lagi gak sholat sekarang?” dengan wajah lugunya.
            “ ini dek, 7000 ya” potongnya si ibu.” Ini buk” Si gadis  sambil mengeluarkan uang 50000 rupiah, “ wah, dompetnya tadi dibawa bapak e dek,gak ada uang kembalian, ya udah bawa dulu saja gak papa, lain kali bayarnya, ibu sudah telat ini mau sholat ya dek”sambil ngeluyur gitu aja pergi menuju masjid. Tertegun si gadis pembeli, dalam benaknya” subhanallah, suami istri itu betapa istiqomahnya terhadap agama ini, mereka tidak mau ketinggalan sholat berjama’ah dan betapa yakinnya mereka akan janji-Nya, bahwa rezeki itu ada yang mengatur yaitu Allah. si ibu tidak bertanya-tanya nama si gadis siapa, rumahnya dimana, takut kalau ternyata nanti gak bayar dan kabur gitu aja”,
            ahh jadi malu, merah padam muka si gadis, karena baru sadar sudah magrib dia masih keluyuran, orang sudah berwudhu dan mengambil posisi manis untuk mendapat tempat yang paling dekat dengan-Nya, paling dekat Rabb-Nya, agar bisa khusyu sholat tanpa tergesa-gesa,tapi dia masih di luar. Mengurusi hal yang sepele.
            pulang akhirnya si gadis, satu hari terlewati, ternyata dia tidak juga membayar nasgor karena lupa, ingat2 sudah jam 9 malam, dua hari pun terlampaui, belum juga ia membayar karena lupa. Akhirnya hari ketiga, ia bayar karena teringat selesai mengajar dan melewati tempat jualan ‘nasgor’ kemaren tepatnya jam 20.00. “ assalamu’alaykum” salam si gadis yang mengagetkan si bapak dan ibu. “ wa’alaykumsalam” dengan wajah ramah biasa menerpa di hadapan. “ masih inget sama saya bu?, kemaren yg hutang nasgor belum bayar, 2 hari yang lalu dink buk, maaf ya kemaren mau kesini lupa terus” dengan wajah malu2..hihihih.
“ oh iya dek, gak apa2, biasa manusia lupa” jawab ibu penjual membesarkan jiwa. “ pesen lagi ya buk, kemaren nasgor sekarang mie rebus aja deh” sambung si gadis sambil cengingisan.
            dengan gaya SKSD( sok kenal sok dekat) yang mulai keluar, si gadis banyak bertanya pada si ibu yang lagi duduk, dan bapak yang menyiapkan pesanan. Ternyata mereka berasal dari madura asli, ke jogja merantau mengadu nasib mencari rezeki untuk menafkahi dan menyekolahkan anak-anak yang tetap tinggal di madura sana. Kalau tidak salah anak mereka ada 4, satu sudah menikah dan punya cucu 1, lainnya masih bersekolah SMP, dan SD, sedangkan yang nomer 4 tidak berumur panjang(innalillah...) smg dapat tempat yg baik.  
Panjang cerita, entah nyambung kemana-mana obrolan, sehingga menyinggung tentang mekkah, tentang umrah dan haji, “ pengen banget dek kesana, bertemu rasulullah, menjalankan sunnahnya rasululllah,insyaAllah semoga bisa kesana dek” harap bapak nasgor sambil masak. “ aamiin, nanti kesananya kalau belum bisa berdua, satu-satu dulu ya pak-bu?” tanya si gadis dengan nada bahwa pernyataannya benar.” Gak dek, kita harus berdua, kalau uangnya nanti belum cukup, ya kita nabung lagi dek, pokoknya tetap harus berdua dek, karena kita berjuang juga berdua, jadi harus bersama dek kesananya” tiba-tiba si ibu mengungkap dgn mata bekaca2 da suara agak parau sambil bungkus nasi.
            usia si ibu 35 tahun, gak jauh beda dengan si suami, dengan Percaya Diri mereka bilang, insyaAllah pasti akan dimudahkan menuju tanah suci itu.  Memang selama Allah bilang “ terjadilah, maka terjadilah”. Karena itu pasangan penjual nasgor ini tidak pernah meninggalkan sholat dan senantiasa berdo’a pada Rabb-Nya, untuk menggapai cita2. Selain berhaji, mereka mempunyai cita si anak yang dua kecil itu hapal Al-Qur’an, subhanallah... begitu besar cita2 dan perjuangan mereka. Optimis untuk terus berikhtiar, dan yakin akan janji-Nya dengan selau bermunajat pada-Nya, itu lah yang dilakukan pasangan suami-istri ini.
            Si ibu bilang, kalau dia yang dahulu mengajari si bapak( tentang agama mungkin maksud si ibu), dan si bapak sekarang begitu istiqomah dalam menjalankan agamanya. Subhanallah mereka saling mengingatkan, mengajak dan menguatkan dalam kebaikan satu sama lain. semoga mereka di mudahkan dan d kuatkan untuk menuju tanah suci dan dikabulkan harapannya harapannya. Semoga kita yang masih muda juga tidak mudah menyerah akan cita-cita yg tinggi, karena yakinlah ada Allah di setiap langkah kita, jika kata Allah “ terjadilah, maka terwujudlah mimpimu.”InsyaAllah Allahummaaamiin..Allahua’lam wa rasulullah................................................................................

NB : Nasgor samping depan Uzlifatul jannah “ pak kumis” ..................................................................


            
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

kisah cinta Ali-Fatimah

Kisah ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah
chapter aslinya berjudul “Mencintai sejantan ‘Ali”
Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.

Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.


Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.


Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.



”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.


Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.


Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.


”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.


’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”

 
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.

’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.
 

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.


Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.


Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

 
”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.


”Ya. Engkau wahai saudaraku!”


”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”


”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”


’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”


”Entahlah..”


”Apa maksudmu?”


”Menurut kalian apakah
 ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”

”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,


”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua!
 Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.


Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
 

’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”


‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”


Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”


Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus
 Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:


“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab
 Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4). 


*re-post dari note seorang sahabat...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dakwah Kampus Ideal


                      Dakwah Kampus Ideal                    
Bismillahirrahmanirrahim........
            Ketika kita berbicara tentang dakwah, amat berat terdengar di telinga dan tanggung jawab yang besar, tapi tidak ketika semua yang dlakukan karena Allah.  Ketika kita berbicara tentang kampus, tentulah terdapat civitas-civitas akademika didalamnya. Civitas akademika adalah komunitas kecil, elit, yang terdiri dari sedikit orang yang beruntung untuk mengenyam pendidikan di prguruan tinggi negeri, serta dipercaya oleh masyarakat dan pemegang kekuasaan negara sebagai komunitas yang memiliki kapasitas KEILMUAN (intelektualitas) dan profesionalisme lebih dibanding kominitas lainnya. Maka  dakwah kampus menjadi bernilai penting. Sehingga tujuan dari dakwah kampus ini adalah sebagai berikut :
“ membentuk civitas akademika yang bercirikan intelektualitas dan profesionalitas, memiliki komitmen yang kokoh terhadap islam, dan mengoptimalkan peran kampus dalam upaya mencapai kebangkitan islam”.
            Melalui dakwah kampus diharapkan lahir intelektual-intelektual muda yang profesional dalam bidang yang digelutinya dan tetap memiliki ikatan dan keberpihakan yang tinggi terhadap islam. Merekalah pembaharu-pembaharu yang dapat melakukan perubahan-perubahan kondisi dimasyarakat menuju kehidupan islami hingga akhirnya terwujud  bersama cita-cita kebangkitan islam. Kemudian kita bentuk Lembaga Dakwah kampus yaitu lembaga yang consent dalam aktivitas dakwah kampus, maka sebagai unsur lembaga dakwah misinya adalah melakukan islamisasi kampus dengan visi menjadikan kampus sebagai pusat peradaban dan intelektual dengan memusatkan ke arah islam, yang tidak di pungkiri bahwa civitas akademika, kelak akan menjadi bagian yang paling menentukan dalam perubahan masyarakat. Dan untuk mencapai tujuan dari dakwah kampus itu sendiri.
“ sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”.(QS.Ar-Ra’du:1)
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas, lagi Maha Mengetahui(QS.Al-Maidah:54).
            Allah tidak akan mengubah diri kita( kampus kita) kecuali kita yang mengubahnya, sudah saatnya bergerak dan termasuk dalam jundi-jundi Allah, ketika kamu berpaling maka Allah sendiri yang akan mencari pengganti kamu dengan orang yang lebih baik, tinggal kita mau apa tidak masuk dalam barisan mulia ini. Adapun dakwah kampus ideal mungkin sudah banyak beredar artikel, buku yang menulis tentang itu semua.
            Tidak dipungkuri jika sesorang yang memiliki ruhiyah dan tarbiyah yang kuat, maka kuat lah jiwanya, kuatlah dirinya untuk mampu mengajak orang lain dalam  islam yang sebenarnya.
Dakwah kampus akan kuat dimana orang yang menggerakan yang biasa disebut aktivis dakwah(ADK) memiliki 4 kretiria:
1.      Memiliki tarbiyah(ter-tarbawi dengan baik) dan artinya dia memiliki ruhani yang sehat dan tinggi: persoalan ibadah merupakan hal yang sangat penting bagi ADK. Harus senantiasa mendekatkan diri pada Allah, sehinga kita juga akan dibantu oleh Allah dalam setiap usaha yang di lakukan.
2.      Memiliki kecerdasan organisatoris dan kecerdasan lainnya :kemampuan dalam manajemen organisasi kampus, agar dakwah tidak keluar jalur, kecerdasan mengelola emosi, mengelola hati, bijak dan ketegasan, cerdas akademika bidang yang di geluti maupun keilmuan yang ada. Kecerdasan strategi, layaknya Rasulullah melakukan pendekatan personal one by one, sehingga terbentuklah kader-keder inti sebagai pendongak langkah dakwah beliau selanjutnya, menolong tanpa meminta upah, tidak sakit hati ketika di cela, ini merupakan bagian dari kecerdasan-kecerdasan yang hars dimiliki, karena jika tidak, maka kamu hanya akan dapat kecewa terhadap manusia saja.
3.      Memiliki stock gagasan dan pemikiran yang banyak: fungsinya untuk mendinamisasikan diri. ADK harus kaya dengan ide-ide dan improvisasi. Banyak membaca risalah-risalah terdahulu, perjuanngan Rasulullah dan para sahabat, karena siapa lagi yang memiliki strategi dakwah yang tangguh selain Rasulullah SAW dan kesabaran dan keikhlasan para sahabat, sehingga islam bisa menerangi sekalian ummat d dunia hingga sekarang ini. Yang dilakukan Rasulullah adalah pencitraan, mulai dari sifat beliau yang mulia, Shiddiq (benar dan jujur), Amanah, (Dapat dipercaya, Tabligh, (Menyampaikan), : Fathanah, (Cerdik, Pintar dan Bijaksana). Sehingga siapa yang bisa menolak apa yang beliau katakan, kecuali orang-orang yang fasik dan sudah tertutup hatinya. Sehingga ADK di harapkan cinta membaca dan mampu menganalisis kondisi yang ada.
4.      Memiliki semangat yang kompetitif : kompetisi adalah satu syarat untuk mendinamisasikan diri. Jiia kita tidak mempunyai semangat kompetisi maka kita akan menjadi seorang pecundang (Looser). Sehingga ADK memiliki strategi-strategi terstruktur dalam pengelolaan para kader, ntah itu dalam perekrutan ataupun, pengkaderan dan yang tidak kalah penting dalam ADK adalah “ SIAPA penerus estapet dakwah antum berikutnya??” banyak ADK yang kadang menyepelekan hal ini, ketika merek sudah berada di panggung wisuda, mereka masih kebingungan yang kan melanjutkan posisi mereka siapa, karena mereka terlalu sibuk hanya membersayakan diri sendiri, kader bawah hanya sebagai konsumtif, jarang d ajak terlibat langsung dalam perumusan dal lain-lain. Padahal SDM nya banyak tapi bagaikan buih, tidak ada yang matang, bahkan mereka kabur karena mereka merasa tidak di anggap dan  tidak ada, tidak sedikit aktivis yang berlaku seperti ini, mereka sudah lulus, kemudian menikah, tapi mereka masih memikiki PR yang belum usai, penyampaina RISALAH yang belum selesai, sehingga kader-kader harus mulai dari NOL lagi, kerena belum terlalu paham dan sebagainya. Ini hal penting yang harus dperhatikan.
Terlepas dari strategi-strategi dakwah yang ada pembahasannya sendiri, bangunan akan kokoh jika perangkat-perangkat penyusunya bisa bekerjasama dan tidak terpecah-belah, sehingga sangat penting untuk  terus meng-upgrade diri, dan saling mengingatkan satu sama lain,dengan cara apapun itu secanggih apapun manhaj yang di gunakan ketika personal yang menggunakannya sudah “ mobok”, maka tidak akan berjalan dengan baik.
dan juga ketika di atas saya menyatakan pentingny kita membaca. Dan agar kita tidak terbawa hegemoni-hegemoni yang ter-frame dalam otak kita karena pengaruh barat jika kita tidak modern jika tidak mngikuti gsys mereka maka kita bukan manusia modern. Sejak dulu umat islam sudah mampu mengmbangkan teknologi sebelum mereka(barat), para ADK belajarlah dari masa lalu(sejarah) karena orang yang mau mempeljari sejarah dia tidak akan jatuh pada lubang kesalahan yang sama, dan akan mampu kebangkitan masa depan apa yang akan dia  perbuat untuk umat. Wallahu’alam..

by: aisy_julia



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Belajar dari ustadz Rahmat Abdullah dalam masalah kontemporer jamaah

Berikut percakapan Ustadz Rahmat Abdullah dalam film Sang Murabbi.
“Ane mau curhat nih stad. Ane liat nih Sekarang ngajinya dah pada kendor, tiap liqo yang diomongin politil mulu. Kayanya ga ada omongan selain itu.” Kata mabruri.
Ustadz Rahmat berkata, “Ane paham apa yang antum rasakan, dan temen-temen rasakan. Jadi, ane pengen cerita nih, akh mabruri, tentang monyet,”
“Monyet? Emang kita monyet?” Tanya Mabruri.
Ustadz berkata, “Bukan, maksudnya, ni ibarat, jadi gini, akh mabruri, jadi ada seekor monyet ni. Akh mabruri. Dia naek trus sampe ke pucuk pohon kelapa. Tapi diem-diem ada 3 jenis angin nih yang bukan sembarangan nih angin, ada angin topan, angin bahorok, angin puting beliung. Siap nih, ngincer tu monyet. Siap nih. Plan-plan, plek. Kaga jatoh!”
“Makin kenceng,” Sela Mabruri.
“Makin kenceng aje pagangannnya. Tapi dateng nih, akh mabruri, angin yang sepoi-sepoi nih dateng deh, pelan-pelan, pelan-pelan, diincer tuh ubun-ubunnya tuh monyet diincer. Seeet, seer ngeriep-ngeriep tu monyet, matanya ga ngeliat lagi dah, tangan lepas dah, itungan berapa detik, jatoh dah.” Lanjut Ustadz.
“Jatoh, stad?” Kata Mabruri.
“Subhanallah, akh mabruri, nah ibaratnye begitulah tantangan dakwah kita. Jadi klo kita di uji sama yang sempit, kesedihan, kemiskinan, kuat kita, akh mabrur. Tapi klo kt di uji sma ksenagan, akh mabruri, sebentar doang, plek, jatoh dah. Jadi kesimpulannya nih, akh mabruri, antum jangan jadi monyet.” Ustadz mengakhiri.
Percakapan lain antara Mabruri dengan Ustadz Rahmat Abdullah
“Temen-temen gimana kabar?” Ustadz bertanya.
“Begitulah ustadz, makin jadi-jadi aje. Ngomongnya politik melulu. Ngajinya makan lemah, hamasah sama ruhiyahnya makin tips tuh stad, gimana yah?” Jawab Mabruri
“Akh, antum ingatkan deh, likullim marhaatin rijaluha wa likullim marhaatin masaakiluha. Jadi, setiap marhalah itu ada rijalnya, setiap marhalah ada masalahnya. Jadi, kita, masing-masing kita, ada cobaannya dari Allah swt. Begitu juga dakwah kita. Obatnya, mabruri, adalah kesabaran, keikhlasan antum, pengorbanan teman-teman, dan kita kembali ke asholah dakwah. Kita ngapain dakwah ini, kita cemplung dakwah ini, kita habis-habisan dakwah ini. Kenapa? Karena Allah saja. Kita inget bagaimana Kata Allah swt, bagaimana kata rasul. Udah selesai…” Jelas Ustadz.
“Kita ini udah Gatel stad,” Mabruri menyanggah.
“Paham, paham” Ustadz bicara.
“Keadaannya udah kaya meledak begitu,” Lanjut Mabruri.
“Paham, paham ane. Shobron ‘ala shobron. Antum berikan sabar diatas sabar kepada Allah swt. Allah akan segera dateng dengan jalan keluarnya.” Ustadz Mengakhiri tausiyahnya.
Sedikit saja analisis penjelasan.
Ikhwah fillah, kejadian yang saat ini banyak dibicarakan, ternyata sudah terjadi pada masa Ustadz Rahmat. Namun, ustadz Rahmat menjelaskan dengan sabar dengan penjelasan diatas. Mungkin ini juga yang dilakukan oleh Ustadz Hidayat dan para asatidz lainnya dalam menaggapi masalah ini. Maka, murabbi ane juga mengatakan bahwa periode ini, kita memperkuat kembali kaderisasi kita, menguatkan iman dan ruhiyah kita. Memang, satu mihwar dengan mihwar yang lain tidak boleh putus, mungkin hanya beda proporsi. Namun, hemat ane, mihwar muasasi perlu proporsi yang sangat besar walau mihwar telah berganti.
Ustadz Rahmat juga tidak keluar dari jamaah seperti banyak yang saudara kita lakukan. Shobron ‘ala shobron. Inilah tantangan, bukan dihindari, tapi diselsaikan. Ustadz rahmat juga bercerita tentang seorang al-akh yang dua kali tidak hadir karena ada ayahnya datang dan pekan berikutnya ibunya datang. Allah tidak akan memberikan ujian tambahan jika kita tidak lulus pada ujian pertama. Jika ujian sekarang tidak bisa kita lalui, maka tidak dapat kita pastikan dengan baik bahwa kita bisa melewati ujian berikutnya.
Maka, tidak layak jika seorang akh mengatakan, “Jika Ustadz Rahmat Abdullah masih hidup,,,,” untuk mengkritisi kondisi ummat sekarang. Bahwasannya Ustadz Rahmat telah wafat, namun taujihnya masih bisa kita rasakan. Sebagimana perkataan Abu Bakar dalam menangani masalah Umar yang tidak mempercayai wafatnya Rasulullah. Jamaah ini tidak bergantung pada sesosok manusia, even itu Ustadz Rahmat.
Inilah tantangan dakwah dan diri kita. Selesaikan, dan kita akan mendapatkan tantangan berikutnya yang lebih besar.
Alhamdulillah, Allah mengizinkan ane untuk mendownload film ini sehingga bisa menjadi charger jika masalah dalam jamaah selalu hadir. Teringat dengan buku-buku dan tulisan-tulisan beliau. Ada baiknya, kita mengulang beberapa kata-katanya yang ringan namun berat. Tentu dengan tidak melebihi konsentrasi kita pada Allah dan Rasulnya.
Wallahu A’lam
mengutip dr "ruang belajar garakan intelektual"..subhanallah, syukran
sumber: http://thechangemaker.wordpress.com/2011/04/15/belajar-dari-ustadz-rahmat-abdullah-dalam-masalah-kontemporer-jamaah/
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Belajar Dari Kisah Abu Nawas

Abu Nawas yang terkenal humoris, lucu lagi konyol Ia sering kali bikin kerbutan, bahkan sudah sering pula mempermalukan raja di depan umum. Maka sudah wajar raja geram. Murka baginda raja sudah diubun-ubun. Ia ingin membalas perbuatan Abu Nawas itu. Apalagi setelah Raja tahu Abu Nawas takut sama Beruang. Raja segera mengundang Abu Nawas untuk berburu. Raja yakin Abu Nawas nanti akan ketakutan dihutan. 

Suatu hari, rencana berburu itu datang. Para prajuritpun berangkat menjemput Abu Nawas. Dia langsung bergidik mendengar keterangan prajurit yang memberitahu perintah raja. Tetapi, belum sempat rombongan sampai kehutan. cuaca tiba-tiba berubah mendung seperti mau hujan. Saat mengetahui hal tersebut raja mengubah siasatnya dan memanggil Abu Nawas untuk menghadap :

"Wahai Abu Nawas, tahukah kamu kenapa aku memanggilmu?" tanya raja.

"Tuanku, hamba minta ......maaf! Hamba benar-benar tak tahu kenapa Paduka memanggil hamba,"jawab Abu Nawas.

"Kau lihat! hujan akan segera turun, hutan masih jauh, maka kau kuberi kuda untuk menyelamatkan diri dari hujan. Tapi sayang kau kebagian kuda lambat. Nanti siang kita berkumpul ditempat istirahat. Jika nanti hujan turun, kita semua harus bisa selamatkan diri agar pakaian tetap kering. sekarang kita berpencar," perintah raja dengan senyum seakan mengejek kuda yg lamban. Raja dan para prajurit punya kuda yang gagah dan larinya kencang.

Setelah Raja dan para prajurit bergerak, Abu Nawas tertinggal, ia sadar bahwa dirinya sedang dijebak. Raja bersana rombongan menungang kuda secepat mungkin. Namun tetap saja pakaian Raja dan para prajurit basah kuyup saat tiba di lokasi tempat berkumpul. Abu Nawas pun tiba paling akhir dengan kuda lambatnya dan anehnya baju dibadanya tidak basah. Raja terbengong, nyaris tak percaya, karena dengan kuda yg larinya kencang raja tetap basah kuyup. Raja pun memanggil Abu Nawas untuk kembali menghadap :

"Wahai Abu Nawas, mengapa pakaianmu tidak basah walau sudah kehujanan?" tanya raja.

"Tuanku, hal ini karena kuda yang Paduka berikan kepada hamba merupakan kuda pilihan.... sehingga sanggup menghantar hamba sampai ke kempat ini dengan pakaian yang tetap kering" jawab Abu Nawas.

Hmmm.... begitukah?? Kalau begitu, karena pakaianku basah  maka kita tunda saja perburuannya besok..... dan kita bertukar kuda.... aku ingin tahu sehebat apa kuda yang kamu pakai sekarang.

Akhirnya pada hari berikutnya, Raja memberinya kuda yg cepat. Raja memakai kuda lambat yang dipakai Abu Nawas kemarin.... Usai berpencar, hujan kembali turun, bahkan lebih deras dari hari kemarin. Dan Rja beserta prajuritnya pun berlari dengan sekencang-kencangnya. Namun, wajar jika raja dan prajurit basah kuyup karena kuda yg ditunggangi raja lambat larinya.

Tatkala waktu berkumpul tiba, Abu Nawas sudah lebih awal santai ditempat peristirahatan. Raja dan rombongan menyusul dengan pakaian basah kuyup lebih dari kemarin. Lagi-lagi Raja heran melihat pakaian Abu Nawas tetap kering. Maka Rajapun penasaran.

"Wahai Abu Nawas, ternyata kamu berbohong kepadaku.... kemarin kamu bilang kuda yang  kupakai sekarang ni merupakan kuda pilihan. Tetapi, kuda yang benar-benar lambat. Yang aku herankan mengapa engkau tak basah kuyup walaupun menunggangi kuda yang manapun juga?" tanya raja.

"Mohon ampun Paduka... hamba tidak berbohong.... kuda yang hamba pakai kemarin memang benar-benar kuda pilihan dan kuda yang hamba pakai sekarang ini lebih pilihan lagi.... dan mengenai pakaian hamba yang kering jawabannya sangat gampang." Jawab Abu Nawas.

"Gampang bagaimana? Tatkala aku memakai kuda kencang, aku tak bisa mencapai tempat berteduh, apalagi kuda lambat.

"Maaf Baginda...., sebenarnya hamba tidak menyelamatkan diri. Ketika hujan turun, Hamba cepat-cepat melepaskan pakaian, kemudian melipat dan mendudukinya dengan rapat agar tidak basah diguyur hujan. Hamba lakukan sampai hujan kembali reda," Jawab Abu Nawas memecahkan penasaran baginda raja.


Hikmah dari kisah di Atas :

Apa yang dilakukan oleh baginda raja merupakan hal yang umum dilakukan orang-orang jaman sekarang. Banyak orang yang mempunyai tujuan tertentu.... namun langkah-langkah yang mereka ambil tidak FOKUS kepada tujuan yang hendak mereka capai tersebut. Namun justru memfokuskan diri kepada hal-hal yang lain. Akibatnya apabila mereka gagal mencapai tujuan mereka.... seringkali mereka menyalahkan segala keterbatasan yang mereka miliki.... entah berupa minimnya uang, tenaga ataupun sarana transportasi yang mereka miliki.... Jadi antara tujuan yang mereka tetapkan dengan langkah-langkah yang mereka ambil tidak sejalan dan bahkan saling bertentangan. Sehingga wajar saja bila mereka tidak dapat mencapai tujuan mereka.

Jadi apabila kita mempunyai tujuan tertentu.... maka kita harus memfokuskan diri pada tujuan kita tersebut walaupun dengan segala keterbatasan yang ada pada kita. Dan langkah-langkah yang kita ambil harus sejalan dengan tujuan tersebut.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

senangkan orangtuamu semasa hidup

 

BISMILAAHIR RAHMAANIR RAHIIM
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, makasekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia"
[Al Israa' , ayat 23]

"Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil."
[Al Israa' , ayat 24 ]
Usia ayah telah mencapai 70 tahun, namun tubuhnya masih kuat. Dia mampu mengendarai sepeda ke pasar yang jauhnya lebih kurang 2 kilometer untuk belanja keperluan sehari-hari. Sejak meninggalnya ibu pada 6 tahun lalu, ayah sendirian di kampung. Oleh karena itu kami kakak-beradik 5 orang bergiliran menjenguknya.

Kami semua sudah berkeluarga dan tinggal jauh dari kampung halaman di Teluk Intan. Sebagai anak sulung, saya memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Setiap kali saya menjenguknya, setiap kali itulah istri saya mengajaknya tinggal bersama kami di Kuala Lumpur.

"Nggak usah. lain kali saja.!"jawab ayah. Jawaban itu yang selalu diberikan kepada kami saat mengajaknya pindah. Kadang-kadang ayah mengalah dan mau menginap bersama kami, namun 2 hari kemudian dia minta diantar balik. Ada-ada saja alasannya.

Suatu hari Januari lalu, ayah mau ikut saya ke Kuala Lumpur. Kebetulan sekolah masih libur, maka anak-anak saya sering bermain dan bersenda-gurau dengan kakek mereka. Memasuki hari ketiga, ia mulai minta pulang. Seperti biasa, ada-ada saja alasan yang diberikannya. "Saya sibuk, ayah. tak boleh ambil cuti. Tunggulah sebentar lagi. akhir minggu ini saya akan antar ayah," balas saya. Anak-anak saya ikut membujuk kakek mereka. "Biarlah ayah pulang sendiri jika kamu sibuk. Tolong belikan tiket bus saja yah." katanya yang membuat saya bertambah kesal. Memang ayah pernah berkali-kali pulang naik bus sendirian.

"Nggak usah saja yah." bujuk saya saat makan malam. Ayah diam dan lalu masuk ke kamar bersama cucu-cucunya. Esok paginya saat saya hendak berangkat ke kantor, ayah sekali lagi minta saya untuk membelikannya tiket bus. "Ayah ini benar-benar nggak mau mengerti yah. saya sedang sibuk, sibuuukkkk!!!" balas saya terus keluar menghidupkan mobil.

Saya tinggalkan ayah terdiam di muka pintu. Sedih hati saya melihat mukanya. Di dalam mobil, istri saya lalu berkata, "Mengapa bersikap kasar kepada ayah? Bicaralah baik-baik! Kasihan khan dia.!" Saya terus membisu.

Sebelum istri saya turun setibanya di kantor, dia berpesan agar saya penuhi permintaan ayah. "Jangan lupa, Pa.. belikan tiket buat ayah," katanya singkat. Di kantor saya termenung cukup lama. Lalu saya meminta ijin untuk keluar kantor membeli tiket bus buat ayah.

Pk. 11.00 pagi saya tiba di rumah dan minta ayah untuk bersiap. "Bus berangkat pk. 14.00," kata saya singkat. Saya memang saat itu bersikap agak kasar karena didorong rasa marah akibat sikap keras kepala ayah. Ayah tanpa banyak bicara lalu segera berbenah. Dia masukkan baju-bajunya kedalam tas dan kami berangkat. Selama dalam perjalanan, kami tak berbicara sepatah kata pun.

Saat itu ayah tahu bahwa saya sedang marah. Ia pun enggan menyapa saya.! Setibanya di stasiun, saya lalu mengantarnya ke bus. Setelah itu saya Pamit dan terus turun dari bus. Ayah tidak mau melihat saya, matanya memandang keluar jendela. Setelah bus berangkat, saya lalu kembali ke mobil. Saat melewati halaman stasiun, saya melihat tumpukan kue pisang di atas meja dagangan dekat stasiun. Langkah saya lalu terhenti dan teringat ayah yang sangat menyukai kue itu. Setiap kali ia pulang ke kampung, ia selalu minta dibelikan kue itu. Tapi hari itu ayah tidak minta apa pun.

Saya lalu segera pulang. Tiba di rumah, perasaan menjadi tak menentu. Ingat pekerjaan di kantor, ingat ayah yang sedang dalam perjalanan, ingat Istri yang berada di kantornya. Malam itu sekali lagi saya mempertahankan ego saya saat istri meminta saya menelpon ayah di kampung seperti yang biasa saya lakukan setiap kali ayah pulang dengan bus. Malam berikutnya, istri bertanya lagi apakah ayah sudah saya hubungi. "Nggak mungkin belum tiba," jawab saya sambil meninggikan suara.

Dini hari itu, saya menerima telepon dari rumah sakit Teluk Intan. "Ayah sudah tiada." kata sepupu saya disana. "Beliau meninggal 5 menit yang lalu setelah mengalami sesak nafas saat Maghrib tadi." Ia lalu meminta saya agar segera pulang. Saya lalu jatuh terduduk di lantai dengan gagang telepon masih di tangan. Istri lalu segera datang dan bertanya, "Ada apa, bang?" Saya hanya menggeleng-geleng dan setelah agak lama baru bisa berkata, "Ayah sudah tiada!!"

Setibanya di kampung, saya tak henti-hentinya menangis. Barulah saat Itu saya sadar betapa berharganya seorang ayah dalam hidup ini. Kue pisang, kata-kata saya kepada ayah, sikapnya sewaktu di rumah, kata-kata istri mengenai ayah silih berganti menyerbu pikiran.

Hanya Tuhan yang tahu betapa luluhnya hati saya jika teringat hal itu. Saya sangat merasa kehilangan ayah yang pernah menjadi tempat saya mencurahkan perasaan, seorang teman yang sangat pengertian dan ayah yang sangat mengerti akan anak-anaknya. Mengapa saya tidak dapat merasakan perasaan seorang tua yang merindukan belaian kasih sayang anak-anaknya sebelum meninggalkannya buat selama-lamanya.

Sekarang 5 tahun telah berlalu. Setiap kali pulang ke kampung, hati saya bagai terobek-robek saat memandang nisan di atas pusara ayah. Saya tidak dapat menahan air mata jika teringat semua peristiwa pada saat-saat akhir saya bersamanya. Saya merasa sangat bersalah dan tidak dapat memaafkan diri ini.

Benar kata orang, kalau hendak berbakti sebaiknya sewaktu ayah dan ibu masih hidup. Jika sudah tiada, menangis airmata darah sekalipun tidak berarti lagi.

Kepada pembaca yang masih memiliki orangtua, jagalah perasaan mereka.
Kasihilah mereka sebagaimana mereka merawat kita sewaktu kecil dulu.
ndhi.gmail


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS